Tjokroaminoto & SM Kartosoewirjo

     Dunia perfilm-an indonesia kembali disemarakan film sejarah yang cukup banyak mengandung muatan historis yaitu film “Guru Bangsa : Tjokroaminoto” yang sebelumnya telah hadir pula film sejenis seperti Film Sang Pencerah (Film yg menceritakan tentang KH.Ahmad Dahlan), Soekarno (Film tentang Presiden soekarno).

     Jujur saya pribadi belum menonton film Guru Bangsa ini, tapi saya membaca satu review (http://www.pkspiyungan.org/2015/04/plus-minus-film-tjokroaminoto-sisi.html) dan juga saya berkunjung ke website film tersebut (http://www.tjokromovie.com). Ada satu keganjilan yang saya temukan yaitu tidak adanya tokoh SM Kartosoewirjo yang ditunjukkan dalam film ini. Padahal yang saya ketahui murid Tjokroaminoto yang cukup dikenal adalah Soekarno, Moeso & Kartosoewirjo. Ketiga murid Tjokroaminoto ini mempunyai jalan masing-masing dalam memperjuangkan pemahamannya. Soekarno menjadi seorang nasionalis (yang dikemudian hari menjadi presiden pertama indonesia), Moeso menjadi seorang komunis yang menjadi bagian PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Kartosoewirjo menjadi seorang pendiri NII (Negara islam indonesia). Ketiga murid Tjokroaminoto ini mempunyai jalannya masing-masing dalam berjuang.

     Tidak adanya Kartosoewirjo dalam film ini membuat saya heran, apakah karena Kartosoewirjo sangat erat dengan NII yang berembel-kan islam atau karena Kartosoewirjo dituduh menjadi pemimpin gerakan yang melakukan makar kepada NKRI. Kalau karena makar maka seharusnya Moeso tidak ditampilkan, karena telah menjadi pengetahuan umum bahwa PKI melakukan pembunuhan kepada beberapa jendral dimasa lalu dan melakukan makar pula. Maka saya menjadi bersuudzhon mungkin karena Kartosoewirjo lekat dengan islam maka beliau sengaja tidak ditampilkan agar umat muslim lalai sejarah.

     Saya memahami bahwa Kartosoewirjo adalah pendiri dan imam pertama NII. Tapi saya mengetahui (melalui literatur yg saya baca tentang Kartosoewirjo dan NII ) bahwa kartosoewirjo memiliki niat yg lurus dan ikhlas dalam berjuang. Salah satu-nya bisa dilihat ketika Soekarno hijrah ke Yogyakarta bersebab perjanjian renville dengan belanda, Kartosoewirjo dengan heroiknya bersama pasukannya bersikap bertahan dan mengingkari perjanjian tersebut karena mengancam kedaulatan indonesia. Pun ketika Kartosoewirjo ditawarkan jabatan menteri muda pertahanan dalam kabinet amir syarifudin beliau menolak karena menurut beliau dengan diterimanya jabatan tersebut artinya mengakui indonesia telah kalah. Maka rasanya tak salah kalau saya meyakini bahwa SM Kartosoewirjo memiliki niat yg lurus dan berjuang dengan ikhlas. Tapi saya pun meyakini pula NII yang sekarang telah menyimpang dari cita-cita perjuangan Imam pertama mereka atau lebih tepatnya [mungkin] telah disimpangkan.

     Tulisan ini hanya tulisan singkat hasil pengetahuan saya yg masih sedikit. Tapi sedikitnya pengetahuan saya tidak menyebabkan saya membiarkan ditutupinya sejarah dengan atau tidak sengaja.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s