Cerita Mahasiswa Tingkat Akhir (II)

Ceritanya saya adalah seorang mahasiswa semester akhir disalah satu universitas swasta di bandung (ngga perlu sebut nama, khawatir jadi pencemaran nama baik). seorang mahasiswa sekaligus seorang pekerja yang mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri juga agar bisa berlanjut kuliah. pagi hingga sore bekerja, malam kuliah. melelahkan memang, tapi tetap harus dijalani & dihayati karena sebuah idealisme yg bernama Target Hidup.

Semester ini bisa dibilang adalah puncak aktivitas pekuliahan saya (di tingkat sarjana), lebih menguras pikiran dan waktu. tapi bagi saya tidak masalah apabila hanya menguras pikiran dan waktu karena itu sebuah kewajaran & keniscayaan (dimana-mana pasti yg namanya berusaha & belajar menguras pikiran dan waktu). tapi yang saya pikir tidak wajar adalah ketika menguras emosi, dan celakanya itu saya alami diawal semester ini atau tepatnya ketika saya memulai untuk mengerjakan skripsi.

Ketidak wajaran tersebut diawali ketika saya mengikuti sosialisasi dalam tahapan-tahapan pengerjaan skripsi. saya masih ingat betul, dalam forum yang diadakan pihak kampus (lebih tepatnya fakultas) untuk mensosialisasikan tahapan-tahapan pengerjaan skripsi dimana didalamnya hadir para dosen dan mahasiswa. ketika itu ada seorang mahasiswa yang bertanya :

“salam…ibu bapak dosen yang terhormat,perkenalkan nama saya …., adalah apakah ada keringanan untuk kami para pekerja sekaligus mahasiswa yang mengambil skripsi disemester ini. apakah itu keringanan/kebijakan berupa jadwal bimbingan atau dalam hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pengerjaan skripsi. karena kami (para pekerja) tidak mungkin untuk selalu izin untuk selalu datang kekampus pada waktu jam bekerja…” tanya seorang mahasiswi yang mewakili para pekerja yg lain

Dan saya dapati jawaban dari pertanyaan tersebut adalah jawaban yg menurut saya adalah jawaban ‘paling bodoh’ dari seorang dosen yang dengan tingkat pendidikan/keilmuannya seharusnya memberikan jawaban yang lebih bijaksana. jawaban dari dosen tersebut adalah :

“tidak ada keringanan bagi mahasiswa yang juga pekerja. seharusnya anda bisa menentukan prioritas. ketika anda berkuliah maka itulah prioritas anda” jawaban dari dosen yang kebetulan perempuan tersebut

Entah apa yang dipikirkan dosen yang terhormat dan berpendidikan tersebut sehingga memberikan jawaban (yang menurut saya) sangat bodoh dan tidak pantas bagi beliau yang menyandang sebutan seorang dosen. seharusnya beliau bisa berpikir terlebih dahulu, bahwa seseorang yang bekerja dan berkuliah bisa jadi sangat-sangat mengutamakan keduanya (bekerja dan berkuliah).

mengapa mereka bekerja?? bisa jadi karena mereka membutuhkan uang untuk membiayai kuliah mereka.
ahh itu jawaban klise. tinggal minta kepada orang tua!!! maaf tidak semua orang masih bergantung pada orang tua, bisa jadi mereka udah menempelkan pada hati mereka kata MANDIRI dan menghapus kata BERGANTUNG PADA ORANG TUA
ahh kalau begitu jangan berkuliah. toh berkuliah pun ujung-ujungnya agar bisa bekerja!!! maaf persoalan hati dan niat tidak ada yang bisa menebak dan membaca, bisa jadi mereka yang berkuliah sekaligus bekerja mempunyai target hidup lain. menjadi seorang peneliti misalnya.

Jawaban dosen tersebut sampai sekarang masih terngiang dalam telinga saya. saya masih tidak habis pikir apa yang dipikirkan dalam isi kepala dosen terhormat dan berpendidikan tersebut. apakah itu adalah sebuah jawaban spontan ataukah memang itu hasil dari kristalisasi pemikiran dan pengalaman hidup-nya. entahlah. tapi yang pasti, jawaban tersebut adalah jawaban terbodoh (menurut saya) yang keluar dari mulut seseorang yg disebut seorang dosen.

Dari jawaban dosen tersebut membuat saya makin berpikir, beginikah produk pendidikan bangsa kita. produk yang lebih mengutamakan isi kepala dibanding isi hati. lebih mengutamakan ilmu dibanding moral. bila memang itu produk pendidikan bangsa kita maka pantas banyak orang berilmu tapi tak bermoral.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s