Nasihat Ibu

“Jeung Batur teh kudu akur, malah mun bisa mah kudu bisa ngabantu. bisa wae ayeuna batur butuh urang, tapi saha nu nyaho bisa wae engke urang nu butuh batur. matakna kudu silih bantu & akur jeung sasaha mah. ”
— Ibu HA —
Terjemah : “Sama orang lain itu harus rukun, bahkan kalau bisa membantu mereka. karena bisa jadi sekarang mereka yang butuh kita, tapi siapa yang tahu bisa jadi suatu saat kita yang butuh mereka. makanya harus saling membantu & rukun kepada setiap orang”

    Begitulah kira-kira nasihat dari ibu saya. nasihat sederhana tapi menurut saya begitu dalam tentang makna hidup & bersosial ditengah manusia.  sebuah nasihat hasil kristalisasi pengalaman hidup ibu saya ketika muda, ketika ibu saya mengecap hidup yang tidak selalu sesuai keinginan, ketika segala keinginan ibu saya tak terwujud seperti harapan di alam angan-angannya, ketika setiap keputusan hidup-nya bukan karena keinginannya. sebuah nasihat hasil dari perjalanan ibu saya yg tidak gegap gempita dengan capaian keinginan nurani-nya sendiri, sebuah perjalanan dilorong gelap yg ia tak ingin buah hati-nya kelak berjalan didalam lorong tersebut.

    Ibu saya bukanlah seorang dengan pendidikan tinggi, tapi bukan berarti tak berpendidikan tinggi maka tidak mempunyai kebijaksanaan. yakinlah kebijaksanaan lahir dari kedewasaan menjalani hidup yg berubah menjadi pengalaman hidup. Maka ketika beliau memberikan nasihat tentang hidup ditengah manusia maka saya semakin bangga dengan ibu saya, karena saya berkeyakininan nasihat ibu saya terlahir dari kekhusyu-an ibu saya merenungi nasib,kedewasaannya menerima ketentuan sang maha kuasa & keyakinannya dalam berusaha.

    Nasihat ibu saya hampir mirip dengan konsep dari salah satu buku tentang leadership yg pernah saya baca. dalam buku tersebut dijelaskan bahwa dengan membantu orang lain maka sejatinya kita membantu diri kita sendiri, karena sesuai HKE (Hukum Kekekalan Energi) dalam Fisika bahwa energi itu tidak diciptakan & tidak dimusnahkan melainkan seperti siklus berputar akan kembali menuju sumbernya. dari konsep ini-lah maka sang penulis buku mengaitkannya dengan pahala/ganjaran ketika kita membantu orang lain, maka bisa jadi bantuan yg kita berikan kepada orang lain akan menjadi pahala/ganjaran yang suatu saat akan kembali pada diri kita dalam bentuk tidak disangka-sangka. maka tidak ada kerugian sebenarnya ketika membantu orang lain. tidak ada yang berkurang dari diri kita ketika membantu orang lain. kalaupun ganjaran/pahala hasil dari kita membantu orang lain maka yakinlah bahwa allah sedang memberikan tabungan ganjaran bagi kita untuk diberikan ketika diakhirat kelak. yakinlah.

    Saya yakin nasihat ibu saya bukanlah hasil membaca buku. bukan karena beliau tidak bisa membaca, bukan pula karena beliau tidak mau membaca buku tapi karena waktu beliau habis untuk mengabdi pada suaminya (bapak saya) merawat & menuntun anak-anaknya dalam menjalani hidup. saya berkeyakinan nasihat ibu saya hasil kristalisasi rentetan makna pengalaman hidup yang pernah ibu saya alami. saya berkeyakinan nasihat ibu saya tersebut adalah salah satu sungai dari banyaknya sungai yang mengalir dari mata air cinta ibu saya. mata air sangat jernih hingga mengalir melalui sungai perhatiannya menuju orang-orang terkasihnya terutama suami & anak-anaknya. maka nasihat tersebut begitu menyejukkan lagi membanggakan bagi saya sebagai anaknya dan adik-adik saya.

    Kalau-lah boleh saya sedikit menyombongkan ibu saya, maka saya berkeyakinan ibu saya tidak kalah dengan mereka para penulis makna kehidupan. bagi saya ibu saya adalah seorang jenius dalam kehidupan yang tidak kalah dengan orang-orang jenius lain yang ada dimuka bumi. tidak perlu banyak gelar yg disematkan dibelakang nama ibu saya, cukup dengan gelar ibu telah menjadi penanda bahwa ibu saya adalah seorang jenius dalam kehidupan.

=== *  ===

“Seorang perempuan berjalan terlunta-lunta dilorong gelap. orang-orang meninggalkan-nya.
disaat ia berjalan ditengah lorong datang seorang pria gagah tapi pendiam merangkul pundak kanannya seraya menuntunnya menuju ujung lorong yang terang lagi indah.
kemudian datang seorang pemuda merangkulnya dipundak kirinya seraya membantunya menuju ujung lorong.
kemudian datang seorang gadis menemaninya mengusir sepi.
kemudian datang seorang anak laki-laki menjaganya  & membersihkan jalan dari kerikil tajam.
kemudian datang anak perempuan memeluknya dan menghangatkannya ketika dingin telah menerjang badannya.
dengan bahagia..
dengan kehangatan
akhirnya perempuan mencapai ujung lorong yang terang lagi indah”

RZ Alrifqi

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s