Aku Harus Menjadi Manusia Pembelajar (Kembali)

” Stay Foolish , Stay Hungry”
— Steve Jobs —

    Pagi sejuk diatapi langit biru nan indah, awan bergerak layaknya penari gemulai dipanggung semesta. burung berkicauan seakan bernyanyi mendendangkan kebahagian dipagi sejuk. daun & bunga bermandikan embun jernih yang menyegarkan. suasana pagi disebuah desa yang masih asri, sebuah desa yang belum tercermar polusi kota yang serba permisif dan seakan tak ada kesantunan. desa yang masih ramah & hijau, sehijau butir padi di sawah-sawah yang melingkari desa tersebut. desa yang masih menyisakan sisa-sisa jejak hutan yang menjadi asal desa tersebut. jejak-jejak sungai yang mengalir deras. jejak-jejak pohon lebat nan menjulang tinggi sepanjang mata memandang. sungguh sebuah desa yang begitu asri nan sejuk.

    Tepat disalah satu sekolah di tengah desa tersebut, terlihat seorang anak laki-laki tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus memakai baju putih dan celana merah pendek serta sepatu hitam bersih dan mengkilat yg menandakan sepatu tersebut masih baru. rambut yang ditata klimis dan wajah yang berwarna putih tidak merata. bedak tidak merata menghiasi wajahnya. nampaknya ibu si anak begitu terburu-buru membedaki wajah anaknya. dengan penuh semangat ia berjalan dipapah ibu-nya menuju ke ruangan kepala sekolah.

    ” Assalamu’alaikum…maaf bu kepala sekolah..” ucap ibu si anak menyapa kepala sekolah.
” Wa’alaikumsalam..iya bu..ada yg bisa dibantu?” tanya kepala sekolah
” iya bu..anak saya sudah mendaftar disekolah ini beberapa minggu yang lalu…sekarang udah mulai sekolah kan bu?”
“oh ya bu, saya ingat ibu yang tempo hari kesini…maaf bu untuk kelas satu belum mulai sekolah hari ini…tapi minggu depan bu…maaf sebelumnya tidak memberi kabar ke ibu..” jawab kepala sekolah dihiasi senyum sambil melirik kepada sang anak. kepala sekolah yg terlihat bijak
“oh belum mulai sekolah sekarang bu…kirain udah mulai sekolah sekarang…yaudah klo gitu terima kasih info-nya bu, saya pamit kalau begitu..assalamu’alaikum”si ibu pamit sambil meninggalkan ruangan kepala sekolah seraya menggandeng anaknya
“wa’alaikumsalam…”

    Setelah meninggalkan ruangan kepala sekolah si ibu berkata kepada anaknya
“Nak..ternyata kamu belum mulai sekolah, tapi minggu depan mulai sekolahnya…” jelas si ibu kepada anaknya
Si anak terlihat menunduk dengan mata berkaca-kaca. sedih dan hampir menangis karena ia tidak jadi memulai sekolah hari itu. semangat yang begitu menggelora padam seketika.

    Mungkin terlihat aneh ketika seorang anak bersedih karena ia tidak bersekolah, disaat sebagian besar anak justru berbahagia ketika sekolah libur atau diliburkan. si anak ternyata begitu ingin bersekolah dan mendapatkan ilmu dari ruang-ruang kelas. begitu ingin bercengkrama dan berbagi dengan teman sebangku-nya. begitu ingin bersaing menjadi yg terbaik dengan seluruh temannya bahkan seluruh siswa disekolah tersebut. gelora si anak yang seakan haus ilmu dibuktikan nantinya dengan prestasinya  6 tahun selanjutnya

—- * —-

    6 tahun berlalu si anak semenjak ia pertama kali menginjak sekolah tersebut. semangat yang ia tunjukkan ketika pertama kali menginjak sekolah tersebut dibuktikan dengan prestasi-nya dari mulai kelas 1 hingga kelas 6. ia hampir selalu menempati peringkat 1 dikelas-nya, prestasi terburuknya adalah peringkat 2. sebuah prestasi yang begitu membanggakan. sebuah prestasi yang membuat ia begitu dikenal oleh seluruh siswa sekolah, bahkan hampir seluruh guru mengeluk-elukannya dan menjadikan si anak bagaikan anak emas sekolah dan para guru.

    setelah 6 tahun bersekolah di sekolah tersebut, saatnya ia naik jenjang pendidikan menuju sekolah menengah (SMP/SLTP). dengan embel-embel prestasi selama 6 tahun di sekolah dasarnya, ia begitu percaya diri menatap perjalanannya kedepan di sekolah menengah ini. ia begitu yakin bahwa ia meneruskan prestasi-nya di sekolah menengah ini.

    Ternyata kepercayaan diri dan optimisme-nya tidak terbukti. bukan membanggakan malah memalukan. di tahun pertama-nya ia mampu menduduki peringkat 5 dikelasnya, tapi prestasinya ini terus menurun. bukan hanya prestasi-nya yang menurun bahkan semangat dan gelora menuntut ilmu yang ia tunjukkan dulu ketika pertama kali menginjak sekolah dasar seakan sirna tanpa bekas. berbagai masalah terus ia ciptakan. berurusan dengan guru di sekolah hingga berurusan dengan polisi merupakan sedikit dari masalah yang ia ciptakan.

    Kemanakah rasa haus akan ilmu yang ia tunjukan dulu?

—- * —-

    Disalah satu sudut kamar yg gelap sebuah pesantren terlihat seorang remaja tengah asyik membaca buku diterangi lampu belajar seadanya. remaja tersebut seperti sedang berkelana di dunia deskripsi dari buku yang tengah ia baca. berkelana ke berbagai negeri. berdiskusi dengan ilmuwan di benua arab. berdiskusi dengan ilmuwan di benua biru. berguru kepada sastrawan dunia. merasuk pada pikiran ahli jiwa. bersujud dan bertasbih bersama para ulama. Buku benar-benar telah menyedot perhatiannya. yang ada didekatnya seakan hanya buku tak ada yang lain.

    Si anak telah tumbuh remaja. 3 tahun masa kelam yang telah ia lewati membuat semangat dan gelora mencari ilmu seperti telah benar-benar tercabut dari dirinya. kegemilangan prestasi-nya dulu seakan tak berbekas. 3 tahun masa kelam-nya telah cukup membuat orang tua-nya untuk membuat pilihan bagi si anak untuk memilih. bersekolah tetap di SMA tetapi dengan aturan yang begitu ketat atau menuntut ilmu di pesantren. pilihan sulitnya baginya. karena kedua orang tua-nya ternyata begitu menginginkan si anak menuntut ilmu dipesantren. pergulatan jiwa si anak begitu dahsyat. ia begitu ingin bersekolah di SMA umum demi sebuah cita-cita yang ia ingin capai juga kebebasan yg ia ingin terus ia nikmat. tetapi naluri-nya sebagai anak tidak bisa dibohongi karena orang tua-nya begitu ingin si anak menuntut ilmu dipesantren. akhirnya rasa pengabdiannya sebagai seorang anak & rayuan orang tua-nya telah membuat si anak membuat keputusan besar dalam hidupnya. sebuah keputusan yang benar-benar mengubah dirinya.

    ” ya menuntut ilmu dipesantren…” ucap si anak kepada orang tua-nya.

    Maka dimulai-lah perjalanan si anak di pesantren. kedewasaan dirinya mulai ditempa. pikiran-nya mulai terbuka. gelora & semangat menuntut ilmu yang terpendam jauh di kedalaman dirinya bangkit di pesantren. ya si anak telah kembali menjadi seorang yang haus akan ilmu. ia begitu menggemari membaca buku berjam-jam . menjelajah pikiran dan imajinasi si penulis buku. ia begitu disiplin membaca koran. disudut kamar ia ditemani buku. di tengah santap maka ia ditemani buku. disaat menunggu mandi ia ditemani buku. buku benar-benar telah menjadi sahabat terdekatnya saat itu dikala ia jauh dari orang tua-nya.

    Semangat dan gelora menuntut ilmu telah hidup kembali dalam diri si anak.

—-

    Hari ini si anak telah tumbuh dewasa. Pikirannya telah berkembang. Pikirannya telah diwarnai berbagai ilmu dari pengetahuan yang ia kejar. Pikirannya telah dipenuhi buku yang telah ia lahap. Kehausannya akan ilmu telah kembali dan tumbuh menjadi kebutuhan hidupnya. Diri-nya yg dulu telah kembali lagi.

Dan Remaja Tersebut adalah AKU

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s