Untuk Saudara-Ku : Cintai-lah Ilmu

Saudaraku…
Sudahkah engkau melihat langit hari ini?
Langit mendung dan hujan menyapa gersang bumi. manusia berlarian untuk berteduh agar hujan tak membasahi tubuhnya.

Saudaraku…
Bisakah engkau menjelaskan kenapa langit bisa menurunkan hujan? mengapa awan melayang diatas bumi tanpa penyangga? mengapa bumi kita bulat tapi aku melihat tak seperti berbentuk bulat? mengapa petir yang menggetarkan bisa terjadi? mengapa matahari bisa memancarkan panas dan sinar? mengapa semesta gelap gulita? mengapa manusia bisa hidup? mengapa manusia bisa berpikir? mengapa manusia bisa terlahir kedunia? diamanakah setan berada dan bagaimana wujudnya? diamanakah malaikat berada dan bagaimana wujudnya?
bisakah engkau memberi jawaban atas semua pertanyaanku diatas yang setelahnya masih banyak untaian pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada-mu. bisakah saudara-ku engkau menolong-ku dengan memberi jawaban berbagai pertanyaanku?

Saudaraku…
Mengapa engkau menggeleng. apakah engkau enggan menjawab pertanyaanku ataukah engkau tak mengetahui seluruh pertanyaanku?
“Aku tak tahu…” jawabmu lunglai
Mengapa-kah engkau tak tahu? aku tahu engkau cerdas, aku pun tahu prestasi pendidikanmu hingga sekarang. tapi mengapa engkau hanya menjawab pertanyaanku dengan ucapan “Aku tak tahu”??

Saudaraku…
Baiklah aku tak ingin memaksamu, karena aku selalu yakin apa yang engkau ucapkan berasal dari kejujuran yang tidak sedikitpun terbersit berbohong kepada-ku.

Saudaraku…
Ingat-kah engkau wahyu pertama agama kita yang diwahyukan kepada rasul agung kita
“Iqra bismirabbikalladzi khalaq…”
engkau pasti sudah mengetahui arti dari wahyu pertama agama kita. aku pernah bertanya-tanya mengapa tuhan kita menurunkan wahyu pertama dengan perintah membaca (Iqra). mengapa tuhan kita tidak menurunkan wahyu pertama dengan perintah menyembah-Nya atau mentaati segala perintah & menjauhi larangannya? atau mengapa tuhan kita tidak mewahyukan tentang agama kita?
Tahukah engkau saudaraku?.  aku bukan ingin menggugat tuhan kita, karena agama kita memang mengajarkan untuk mentaati segala apa yang tuhan kita turunkan. aku hanya ingin sekedar mengetahui hikmah dari wahyu pertama agama kita hingga aku bisa menapaki kehendak tuhan kita dengan keberimanan yang lebih mantap

Saudaraku…
Sampai saat ini aku hanya bisa menyimpulkan maksud tuhan kita menurunkan wahyu kita dengan perintah membaca yaitu agar kita mencintai ilmu. itu kesimpulanku, karena kitab suci kita benar-benar sangat kaya makna dan hikmah hingga otakku yang terbatas ini hanya sampai pada satu kesimpulan saja.
“Mengapa engkau menyimpulkannya seperti itu..?” Tanya-mu
aku menyimpulkannya seperti itu karena membaca sangat berkaitan dengan pengetahuan. dengan membaca-lah sebenarnya pintu gerbang pengetahuan itu terbuka yang ketika memasuki-nya engkau merasa sangat kecil karena ternyata dunia dibalik pintu tersebut sungguh sangat luas. entahlah bagaimanapun itu kesimpulanku yang berdasar dari pengetahuanku yang masih terbatas maka masih terbuka celah besar kesalahan. tapi aku percaya bahwa memang tuhan kita menyuruh kita mencintai ilmu hingga tuhan kita pun berkata bahwa orang berilmu dan tidak berilmu itu berbeda (Az-zumar : 9). Maka aku semakin bertambah yakin bahwa memang tuhan kita melalui agama-Nya menyuruh kita untuk mencintai ilmu.

Saudaraku…
Tuhan kita sepertinya menyuruh kita mencintai ilmu, tapi aku berharap engkau jangan sampai menyembah ilmu dan mengagung agungkannya. janganlah engkau mengikuti jejak mereka yang dengan pongah-nya berkata :
“Ajaran islam harus direvisi karena sudah tidak sesuai zaman…”
Janganlah engkau seperti mereka. orang-orang pongah nan munafik yang merasa lebih pintar dari tuhan kita. Ingatlah saudaraku satu-satunya sembahan kita hanyalah Allah Tuhan kita tak ada yang lain. Janganlah engkau seperti mereka yang menjadikan ilmu sebagai sembahan mereka sedangkan tuhan hanyalah sesuatu yang tidak bisa dicapai pengetahuan sehingga tak patut disembah.

Saudaraku…
Manusia adalah mahluk yang terbatas pula. pengetahuan kita juga mempunyai batasan dalam mengetahui sesuatu. maka apabila dalam agama kita yang tidak bisa ketahui secara pasti dengan pengetahuan maka jangan engkau menuduh agama kita agama khayalan dan tak berdasar. sama hal-nya orang yang membuat baju kita, tak bisa kita ketahui dan temui yang bisa kita ketahui dan temui adalah pabrik pembuatnya tapi bukan berarti orang yang membuat baju yang kita pakai tak ada. begitupun dengan hal-hal dalam agama kita yang tak bisa kita jangkau dengan nalar dan pengetahuan kita. kita harus yakin bahwa ajaran agama kita benar & diridhai tuhan kita, karena yakinlah bahwa ketika terdapat ajaran agama yang tak terjangkau nalar & pengetahuan maka keimanan sedang diuji.

Saudaraku…
Aku harap engkau mencintai ilmu, aku tak berharap engkau menjadi orang bodoh lagi munafik yang merasa dirinya pintar. Jangan pula engkau  merasa lebih pintar hingga engkau mengingkari ajaran agama kita. aku yakin engkau akan selalu beriman dan mencintai ilmu. aku yakin karena engkau adalah saudara-ku.

Satu pemikiran pada “Untuk Saudara-Ku : Cintai-lah Ilmu

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s