Untuk Saudaraku : Janganlah engkau Berpacaran

Saudaraku…
Aku Tahu engkau berpacaran & aku pun tahu engkau menutupi-nya. Secara sengaja ku menutupi pengetahuanku tersebut dari mu dan orang lain. Biarlah aku ketahui untuk diriku sendiri saja. aku tak ingin menjadi pintu aib-mu ini. karena engkau saudara-ku.

Saudaraku…
Mengapakah engkau berpacaran?
Aku tidak memungkiri bahwa manusia, laki-laki maupun perempuan membutuhkan kasih sayang dan cinta dari sesama manusia apalagi berlainan jenis, karena itu adalah sebuah kodrat kita sebagai manusia. Aneh bila engkau justru tidak membutuhkan kasih sayang dan cinta, karena sejak dulu kita dibelai kasih sayang dan cinta.  Tidak perlu teori rumit untuk membuktikan bahwa kita manusia membutuhkan kasih sayang dan cinta, cukup rasanya dengan cerita nenek moyang kita adam. Konon Adam diberikan segala kenikmatan surga dari tuhan bahkan mahluk-mahluk pun disuruh tuhan menyembah adam, tapi adam merasa kesepian maka adam pun meminta kepada tuhan pendamping manusia. maka diciptakanlah hawa.

Sebenarnya aku tak ingin melarang-mu memadu kasih sayang dan cinta dengan wanita manapun, tetapi aku ingin engkau menjauhi kenistaan pacaran. janganlah engkau mendekati-nya apalagi mencoba mengecap-nya dan terbuai karena-nya. cukuplah aku meneguk kenistaan dari cawan bernama pacaran. Biarlah aku mengais aib gelap pacaran seumur hidupku yang memalukan. tapi aku tak rela bila kau saudaraku ingin merasakan kenistaan tersebut. sungguh tak rela.

Ketika engkau bersikeras ingin mengecap berpacaran, maka
“Apa yang engkau mau dari berpacaran dan pacarmu?” pertanyaanku
Apakah engkau membutuhkan perhatian dari lawan jenis-mu? Apakah engkau ingin memadu kasih, mengecap kenikmatan cinta bersama pacar-mu? apakah engkau butuh seorang motivator hidup?
Bila pertanyaanku terlalu banyak dan rumit, maka cukup jawab 1 pertanyaanku ini saja kalau begitu:
“Apa maksud engkau ingin berpacaran?”
Aku tahu persis jawabanmu, sebuah jawaban tak jelas diselubungi nafsu. Berikanlah aku jawaban jelas dan terang benderang hingga aku merestui niatanmu itu. tapi layaknya peramal, maka aku bisa memastikan jawabanmu akan selalu samar. aku memang bukan seorang peramal yang mampu melihat masa depan, Tapi keyakinanku akan jawabanmu  itu karena dulu aku-pun pernah seperti-mu. menjadi seorang pembual dengan dorongan nafsu hingga terjerembab kedalam jurang berpacaran.

saudaraku..
jangan engkau masukan kata pacaran dalam kamus hidup-mu. jangan pernah. Engkau berpacaran maka engkau bukan lelaki sejati, engkau hanya seorang pembual, seorang pengecut, seorang yang hina, seorang budak nafsu. Jangan engkau masukan kata nista tersebut dalam kamus hidup-mu atau engkau ingin mengais noda sepanjang hidup-mu seperti aku. tak ada kata pacaran bagi-mu dan bagi-ku. bagi kita hanya ada 2 pilihan:
1. Menikah atau
2. Tidak Berpacaran dan menjaga diri<titik>

Bila engkau merasa membutuhkan pendamping  hidup, engkau sudah siap dan engkau berniat maka menikahlah tidak usah engkau mengecap terlebih dahulu berpacaran.
“Lalu Bagaimana caranya kita mengenal calon pendamping kita?” Pertanyaan-ku dan Pertanyaan-mu
sudahkah engkau lupa bahwa agama kita memberikan satu jalan mengenal calon pendamping hidup kita yang bernama ta’aruf. sudahkah engkau lupa? ataukah engkau pura-pura tidak tahu?. aku berharap engkau tidak lupa begitu-pun aku.
Janganlah engkau memelintir ta’aruf sebagai pacaran dan pacaran sebagai ta’aruf. janganlah engkau menganggap keduanya sebagai sesuatu yang sama.  Keduanya berbeda. ta’aruf mempunyai batasan yang melingkupi dan menjaga-nya. sedangkan pacaran seperti tak ada batasan, interaksi laki-laki dan wanita berinteraksi layaknya pasangan suami istri. Pembeda Tegas Ta’aruf dan pacaran adalah ketegasan dan kejelasan. ketika berproses ta’aruf ada ketegasan dan kejelasan diteruskan atau tidaknya menuju pelaminan cinta teridhai allah. Sedangkan bertahun-tahun berpacaran tak menunjukkan ketegasan dan kejelasan yang pasti dengan dalih belum siap & sedang mempersiapkan. Bila engkau memang belum siap & sedang mempersiapkan maka pilihan kedua-lah untuk-ku dan untuk-mu. pilihan Tidak Berpacaran dan menjaga diri. tak ada pilihan lain.

Saudaraku…
Tahukah engkau, bahwa berpacaran sejatinya engkau sedang bermain-main dengan mahkota kehormatan perempuan. sebuah mahkota tertinggi yang dipunyai perempuan. Maka berpacaran artinya engkau sedang mengoyak sedikit demi sedikit mahkota tersebut. Dan aku-pun berharap engkau tidak lupa bahwa perasaan perempuan sangatlah halus. layaknya air tenang, sedikit saja engkau berikan riakan maka akan hadir riak-riak lain yang mungkin menjadi gelombang yang siap menerjang apa-pun. Bila engkau berpacaran maka bersiaplah engkau bermain-main dengan kehormatan dan hati perempuan.  salah engkau memperlakukannya maka akan tersisa hati yang teriris mengucurkan dendam yang sulit sirna. seakan sudah menjadi guratan tegas diatas batu.

saudaraku…
kuharap engkau sadar akan niatan-mu berpacaran. kuharap engkau bebas dari kungkungan nafsu yang melingkupi-mu yang tak kau sadari. Dan kuharap engkau tidak terjerumus kedalam kenistaan berpacaraan yang pekat dengan lumpur penyesalan.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s