Anehkah Menjaga jarak dengan perempuan Non-Muhrim?

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah kegiatan foto-foto ditempat saya bekerja yang merupakan sekolah. Semua orang harus menggunakan baju yang sama/seragam yang sebelumnya sudah disiapkan. Kegiatan foto-foto pun dimulai. Kegiatan foto-foto ini dimulai dengan foto seluruh guru perempuan kemudian dilanjutkan seluruh guru dan karyawan perempuan maupun laki-laki dan terus berlanjut hingga seluruhnya mendapat jatah difoto. Tapi ada satu momen yang cukup mengganggu bagi saya pribadi, ketika saya harus berfoto dengan satu orang perempuan dan satu orang laki-laki secara bersama. Momen yang mengganggu tersebut terjadi ketika saya dipaksa harus berdempetan dengan guru perempuan yang kebetulan berada ditengah, diapit oleh saya disisi kanan-nya dan disisi kiri oleh guru laki-laki lain. Ketika itu saya menolak untuk berdempetan dengan guru perempuan dengan menjaga jarak dengannya. Tetapi tetap saja saya dipaksa untuk berdempetan dengan alasan agar foto-nya rapi, saya tetap bersikukuh dengan keinginan saya. Sehingga keluar perkataan-perkataan:

“Biasa ketua DKM mah kudu jaga jarak dengan muhrim”
“Dempetan aja ga bakal apa-apa ini..ga bakal masuk neraka”

Jujur saja ada rasa teriris dalam hati saya ketika mendengar perkataan tersebut. Mungkin kalau saya lebih mengedepankan ego, ketika itu juga saya balas perkataan-perkataan tersebut dengan alasan kenapa saya bersikukuh menjaga jarak dengan perempuan non muhrim. Sudah menjadi kebiasaan saya ketika mengungkapkan dengan lantang apa yang saya rasa benar dan menolak secara langsung apa yang saya rasa salah/kurang sesuai. Tetapi saya sadar ketika itu saya berhadapan dengan orang-orang yang lebih tua dengan saya. Maka saya pun lebih mengedepankan etika dibanding ego.

Adakah yang salah dengan menjaga jarak dengan perempuan non-muhrim?

Karena sepengetahuan saya yang awam mengenai pengetahuan agama-pun masih paham dan tahu batasan antara laki-laki & perempuan yang bukan muhrim. Bukan maksud saya sok ketika menjaga jarak dengan perempuan non-muhrim agar disebut ustadz, tapi sudah menjadi aturan agama dan menjadi prinsip hidup saya pula. Saya tidak mau mengorbankan nilai agama hanya sekedar untuk estetika/keindahan, bahkan apa yang saya lakukan pun tidak menodai etika. Tetapi ternyata mereka yang lebih tua lebih mengedepankan nilai estetika dibanding nilai agama yang sama-sama mereka anut. Agama Islam.

Benar rasanya bila dunia semakin mendekati kiamat. Salah satu buktinya sudah saya rasakan, ketika nilai agama yang cukup sederhana tapi prinsipil diabaikan sekedar untuk mempercantik nilai estetika dunia. Dan benar pula bila tua bukan ukuran kedewasaan, dan kedewasaan pun bukan ukuran seseorang disebut tua.

#SemogaMembacaDanTersadarkan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s