Antara Gaya, Fungsi & Kenyamanan (Antara Cibiru-Gatsu)

   

    Hidup memang penuh misteri  yang bertransformasi menjadi realitas. misteri yang sering disebut manusia sebagai takdir. Tetapi justru misteri dan kejadian lah penyusun utama yang melekat erat pada kehidupan, karena misteri-lah maka manusia terus hidup & beraktifitas sehingga terbentuklah sebuah realitas. tanpa misteri maka kecil kemungkinan manusia akan antusias untuk hidup dan beraktifitas didunia ini hingga ia meninggal kelak.  Misteri-lah daya tarik utama kehidupan ini, tanpa misteri maka manusia tidak ada gairah untuk hidup. karena misteri kehidupan-lah maka manusia terus hidup dan bergerak. Layaknya puzzle maka manusia belum tahu akan seperti gambar utuh dari puzzle tersebut tanpa ia  menggerakkan tangannya untuk menyusun puzzle menjadi kesatuan yang utuh sehingga ia akan mengetahui gambar seperti apa yang tersusun dari potongan puzzle tersebut. begitupun kehidupan.

    Sepanjang perjalanan Pagi hari ini menuju tempat kerja sedikit tersingkap realitas kehidupan yang sebenarnya sudah lama terjadi tetapi mungkin kepekaan untuk menangkap fenomena tersebut baru muncul hari ini. Benar rasanya bahwa pengalaman hidup membuat manusia lebih bijak menyikapi kehidupan. Sepanjang perjalanan pagi hari ini sempat menyaksikan sebuah hal yang menurut saya ganjil tetapi seperti sudah menjadi sebuah hal yang normal. Keganjilan yang saya rasakan tersebut muncul ketika melihat seseorang yang mengendarai motor. bagi saya sudah biasa ketika melihat seseorang mengendarai motor tetapi ada sebuah keganjilan muncul  ketika melihat motor yang orang tersebut kendarai tidak menyiratkan sedikitpun kenyamanan dalam mengendarainya dan mungkin pengendara-pengendara motor yang lain pun akan setuju dengan keganjilan saya.

    Sempat berpikir sepanjang perjalanan, sebenarnya motor yang orang kendarai tersebut sengaja dibuat seperti itu oleh pabrikannya ataukah pengendara tersebut yang secara sengaja menjadikannya seperti itu. untuk pikiran saya yang pertama rasanya mustahil karena selain sisi style/gaya maka pabrikan motor pun akan memperhatikan sisi fungsionalitas dan kenyamanan bagi pengendara-nya (maupun jenis kendaraan lain). karena bila sisi fungsionalitas dan kenyamanan dikesampingkan bahkan tidak diperhatikan maka bisa dipastikan tidak akan seorang pun yang ingin memakai motor/kendaraan tersebut. Maka saya simpulkan bahwa memang pengendara motor tersebut yang menjadikan motor yang ia kendarai menjadi terlihat tidak nyaman.

    Entah apa yang ada dipikiran pengendara motor tersebut, karena saya tidak bisa menebak dengan pasti pikiran orang tersebut dan saya pun tidak bisa merasuki dirinya untuk sekedar mengetahui pikiran-nya. tetapi satu yang pasti, saya menemukan fenomena seperti itu bukan hanya kali ini saja. Sudah sering saya melihat orang-orang yang lebih mengedepankan gaya daripada fungsi dan kenyamanan, terutama saya menemukannya dalam hal pakaian. entah kenapa banyak orang yang lebih mengedepankan gaya sehingga kadang mengorbankan fungsi dan kenyamanan. Seperti ini-kah salah satu efek dari badai fashion yang melanda masyarakat indonesia. Sedikit miris ketika masyarakat indonesia menjadi bangsa pengekor dan konsumtif yang membuat masyarakat indonesia seperti budak. budak gaya. budak produk. Inilah salah satu realitas yang sepertinya membuat masyarakat indonesia kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar dan kaya.

    Sepanjang perjalanan merenung dan berpikir, seperti apakah bangsa ini kelak bila budaya pengekor dan konsumtif terus dibiarkan terus tumbuh. sepertinya kemerdekaan indonesia yang menurut sejarah terjadi 17 agustus 1945 harus dibatalkan, karena faktanya ternyata indonesia masih terjajah tetapi dengan bentuk jajahan yang berbeda. Bukan sekedar jajahan fisik yang bisa disembuhkan dengan obat dan perban, tapi jajahan yang halus tapi lebih kejam yaitu penjajahan dalam bentuk budaya yang tidak bisa disembuhkan dengan obat dan perban tetapi dengan pengembalian jati diri & waktu.

    Masa depan layaknya lorong gelap yang terlihat tak berujung, sedang manusia dipaksa berjalan didalamnya menuju ujung lorong. tak ada cahaya atau petunjuk, hanya ada pijakan dan sandaran. suka ataupun tidak manusia harus terus berjalan.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s