Jomblo “Masih” Pilihan

Baru saja mendapatkan kabar bahagia dari salah satu sahabat saya, bahwa insyaallah Mei ia akan melaksanakan sebuah ibadah agama yang melibatkan dua insan berlainan jenis. Sebuah ibadah sakral bernama pernikahan. Tentu saja saya bahagia & bersyukur mendapatkan kabar bahagia tersebut dari sahabat saya, akhirnya ia melaksanakan perintah agama yang menjauhkan dari zina dan fitnah. Ia yang sering dilekatkan image playboy akhirnya membuat sebuah keputusan yang berani sebagai seorang laki-laki dan muslim, sebuah keputusan yang mengakhiri cintanya dimahligai cinta yang halal nan indah. Sebuah keputusan yang membuat saya bangga kepadanya sebagai sahabat.

“Dia udah mau nikah..lha saya??” pikiran yang melintas dipikiran saya

Ketika teman saya sebentar lagi mengalami salah satu peristiwa penting dalam hidupnya bernama pernikahan, sedangkan saya masih jauh dari persiapan untuk menikah. Bukan karena saya tidak mau menikah, apalagi sampai saat ini saya tidak mempunyai perempuan yang akan saya nikahi yang orang-orang sering menyebut keadaan tersebut sebagai jomblo. Saya tidak merasa khawatir, karena kondisi jomblo ini saya sendiri yang menciptakan dan lestarikan sampai sekarang. Bukan karena saya tidak bisa menggaet perempuan atau saya “tidak laku”, tapi jomblo adalah sebuah pilihan yang saya ambil. Jomblo bukanlah pilihan terakhir yang saya pilih, tetapi justru jomblo masih pilihan pertama saya sampai saat ini. Yang suatu saat nanti pilihan saya ini akan berubah menjadi sebuah pilihan untuk menikah.

Saya tidak mau ambil pusing dengan perkataan orang-orang yang mengatakan saya tidak laku. Saya cukup balas perkataan bahkan umpatan mereka dengan ucapan :

“J O M B L O  M A S I H  P I L I H A N”

Ada sebagian yang tertawa mendengar ucapan saya tersebut, mereka berpikir bahwa ucapan saya tersebut hanya sebuah dalih atas tidak laku-nya diri saya dihadapan perempuan sehingga tidak ada seorang perempuan pun yang mau mendekati saya. Tetapi saya tidak mau ambil pusing atau bahkan marah atas ucapan mereka yang seperti tidak simpati dengan pilihan saya tersebut. Mereka berpikir pacaran adalah sebuah tanda bahwa seorang laki-laki dianggap “laku” dihadapan perempuan ataupun sebaliknya. Dalam kamus saya kata “Pacaran” sudah saya hapus sudah sejak lama. Jujur saja dulu kata “pacaran” masih tercetak rapih dalam kamus kehidupan saya bahkan saya pun pernah mencicipi kenistaan bernama pacaran. Tetapi kata tersebut telah saya hilangkan dalam kamus kehidupan saya dengan kesadaran dan pemahaman saya sendiri. Murni keputusan dari kesadaran dan pemahaman saya. Tidak ada penyesalan, yang ada kelapangan.

Entah mengapa masih banyak orang yang menganggap pacaran adalah sebuah proses yang wajar sebagai jalan menuju pernikahan. Bagi saya anggapan mereka akan pacaran sebagai sebuah bentuk sifat pengecut. Mereka berpacaran dengan dalih agar bisa mengenal pasangannya lebih jauh sebelum resmi menjadi suami/istri. Sebuah dalih seorang pengecut. Karena lama-nya pacaran tidak menentukan seseorang lebih mengenal calon suami/istri-nya sehingga ketika nanti resmi menjadi suami istri kehidupan keluarga akan lebih bahagia dan langgeng. Saya bisa memastikan hal tersebut karena saya mempunyai bukti nyata bahwa tanpa pacaran pun kehidupan keluarga bisa bahagia dan langgeng. Buktinya adalah kedua orang tua saya yang hanya bertemu sesaat sebelum kedua orang tua saya menikah. Dan alhamdulillah sampai sekarang kedua orang tua saya bersama anak-anaknya (salah satunya saya) hidup bahagia dan langgeng sampai sekarang. Apakah itu bukan sebuah bukti yang nyata?

Maka Menurut saya pacaran adalah sebuah bentuk sifat seorang pengecut. Bahkan pacaran adalah bentuk legalitas melakukan berbagai hal yang mendekati zina. Dengan dalih pacaran mereka ingin melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan ketika mereka telah secara resmi menjadi pasangan suami istri, tetapi karena terlalu pengecut-nya mereka untuk menempuh jalan yang halal maka mereka menggunakan dalih pacaran semata untuk memenuhi hasrat nafsu hewani-nya.

Ketika dulu saya melakukan pacaran pun saya seperti seorang pengecut dan laksanana hamba nafsu. Saya seperti seorang pengecut ketika tidak keberanian sedikitpun dalam diri saya untuk mengutarakan maksud untuk menikahi pacar saya waktu itu kepada kedua orang tua-nya. Dan saya laksana seorang hamba nafsu ketika dengan bebasnya saya melakukan perbuatan-perbuatan yang dibalut nafsu hewani (naudzubillah..semoga engkau ya allah mengampuni segala dosa hamba-mu ini). Maka ketika saya memutuskan untuk bertobat dan berlepas dari aktivitas pacaran ini, saya seperti seorang pemberani dan tidak lagi menjadi hamba nafsu tetapi saya menjadi pengatur akan diri saya sendiri & tentu saja hamba Allah. Maka mulai saat itu pula kata “Pacaran” secara permanen saya hilangkan dari kamus hidup saya. Dan untuk mereka yang saat ini masih terlena dengan salah satu jelmaan setan bernama pacaran maka sadarlah. Tidak ada sedikitpun kebaikan dalam aktivitas pacaran bahkan yang ada adalah keburukan. Katakanlah pada pacar-mu

“Sekarang kita putus…insyaallah kalau jodoh, allah pasti mempertemukan kita di mahligai cinta yang halal bernama pernikahan. Kalaupun kita tidak berjodoh, pasti allah menyiapkan pasangan yang lebih baik bagi kita berdua” Katakanlah dengan tegas tanpa keraguan pada pacarmu

“Tetapi saya udah pacaran lama. Kasihan kalau harus diputuskan “

Alasan yang menurut saya dibuat-buat. Apa manfaatnya pacaran berlama-lama kalau ujungnya putus atau tidak sampai menikah, yang bisa jadi akan menjadi aib & mungkin ada hati yang tersakiti. Maka sebelum segala sesuatunya terlambat putuskanlah dengan tegas sekarang juga dan katakan pada pacar anda

“ KITA PUTUS.”

Untukmu para pengais cinta terbalut nafsu bernama pacaran. Sadarlah. Buatlah keputusan tegas seraya katakan

“J O M B L O  A D A L A H  P I L I H A N  D A N  M A S I H  P I L I H A N”

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s