“Besar” Prematur

Siang hari cukup terik. Diatas panggung sederhana yang tidak terlalu besar terlihat seorang anak sedang menyanyikan sebuah lagu dari salah satu grup band indonesia.

“Ku mencintaimu sedalam-dalam hatiku..Meskipun engkau hanya kekasih gelapku..
Ku mencintaimu lebih dari apapun..Meskipun tiada satu orang pun yg tahu..
Ku mencintaimu sedalam-dalam hatiku…Meskipun engkau hanya kekasih gelapku” Begitu sebait lyric dari lagu yang dinyanyikan oleh anak tersebut. sebuah lagu cinta.

Tidak beberapa lama kemudian penampilan diatas panggung berganti dengan tarian dari 6 anak perempuan yang disebut modern dance. 6 anak perempuan dengan pakaian yang sangat “pendek” seperti benar-benar menguasai gerakan-gerakan modern dance. bergerak sangat luwes dan lincah. Tidak ada kecanggungan sedikit-pun dari gerakan mereka dan tidak ada ekspresi malu atau ketidak nyamanan memakai pakaian khusus modern dance tersebut yang sangat “pendek”dan “ketat”. Celana yang sangat pendek dipadukan kaos yang seperti mencengkram erat tubuh. Keduanya sama-sama berwarna ungu.

Beberapa saat kemudian pertunjukan diatas panggung sederhana yang dihias pot-pot tumbuhan tersebut berganti dengan pertunjukan modern dance seperti sebelumnya tetapi dengan hanya 2 penari perempuan dengan usia lebih tua dari penari modern dance sebelumnya. 2 orang penari modern dance yang merupakan pelajar SMP tersebut menggunakan kaos dan celana jeans yang sekilas terlihat seperti tidak muat ditubuhnya bergerak dengan lincah dan bebas-nya. Para penonton yang kebanyakan adalah pelajar SD bertepuk tangan menyambut pertunjukan dari 2 pelajar SMP tersebut. Entah apakah tepuk tangan tersebut merupakan bentuk apresiasi dari keindahan gerakan yang ditunjukkan kedua penari tersebut ataukah sekedar tepuk tangan tanpa makna dan peramai suasana saja?

“Zaman sudah edan…” pikir saya.

Jujur saja dalam pikiran saya ketika menyaksikan ketiga pertunjukan diatas panggung tersebut seperti tidak biasa bagi saya. Sangat aneh. Yang membuat tidak biasa adalah penyuguh pertunjukan tersebut adalah anak-anak yang belum bisa disebut dewasa secara kejiwaan. Penyanyi yang mengawali pertunjukan diatas panggung adalah seorang siswa kelas 2 SD. Ketika anak tersebut menyanyi dengan konten lagu seputar dunia anak maka tidak masalah sebenarnya bagi saya, tapi ternyata yang dinyanyikan anak tersebut adalah lagu tentang cinta seorang dewasa maka saya merasa itu tidak wajar. Tidak wajar karena si anak seperti sedang diperkenalkan secara “paksa” dengan sesuatu yang belum saatnya dia kenal. Aneh karena orang tua anak tersebut seperti membiarkannya.

Lalu yang membuat saya lebih tidak habis pikir adalah pakaian dan gerakan modern dance yang diperagakan oleh anak-anak dibawah umur selanjutnya. Dengan pakaian yang sangat “pendek” dan “ketat” mereka menari dengan gerakan-gerakan yang seperti menunjukan setiap lekuk tubuhnya. Tidak ada kecanggungan yang mereka tunjukkan sedikitpun dan tidak ada ekspresi malu di wajah mereka. Entah apakah orang tua mereka menyetujui aksi diatas panggung anak mereka ini. Tetapi yang pasti ada ketidak wajaran dari atraksi diatas panggung yang mereka peragakan tersebut.

“Zaman bener-bener udah edan..”

Zaman sepertinya dipaksa bergerak lebih cepat bagi anak-anak saat ini. Ketika dulu seorang anak disuguhkan hiburan-hiburan khas untuk anak-anak maka sekarang hiburan tersebut seperti terkubur oleh menjamurnya hiburan untuk orang dewasa. Dan anak-anak pun seperti terpaksa mengkonsumsinya karena hiburan khusus mereka seperti sudah mati dikubur. Masih ingat ketika dulu ada lagu yang sangat edukatif mengenai cita-cita dari susan, maka sekarang sudah seperti tergantikan dengan lagu dari boyband atau girlband. Fenomena ini membuat saya berpikir. “kayanya ini peyebab banyaknya Ababil..” begitu pikir saya. Sebuah pikiran yang menurut saya cukup beralasan karena banyaknya ababil (ABG Labil) sekarang ini bisa jadi karena mereka dipaksa “besar” lebih cepat dari seharusnya tanpa diberikan waktu yang cukup untuk menikmati masa kecil mereka. Karena konon menurut psikologi perkembangan setiap fase usia manusia memegang peranan penting pada proses pendewasaan seorang manusia.

“Orang tua-nya kaya gimana ngurus anaknya ya…”

Pikiran saya masih berlanjut berpikir ketika menyaksikan pertunjukan diatas panggung, pikiran saya mulai berpikir bagaimana orang tua anak-anak diatas panggung tersebut dalam mendidik anak-nya. Apakah mereka memberikan kebebasan yang sangat, sehingga anak-nya bebas melakukan apa saja yang mereka mau?. Ataukah sebenarnya orang tua-nya tidak setuju tapi si anak merengek tetap ingin melakukannya?. Entahlah, tapi yang pasti orang tua anak-anak tersebut-lah yang paling bertanggung jawab dan berperan besar terhadap apapun pebuatan & perkembangan anak-nya sendiri bukan orang lain.

“kalau nanti udah punya anak. Saya bakal mendidik anak saya menjadi orang pintar dan shalih bukan orang terkenal dan bodoh..”. pikiran saya yang terakhir ini seperti memunculkan sebuah ironi dalam diri saya. Sebuah ironi tentang pasangan hidup. Karena faktanya saya belum mempunyai pasangan hidup bernama istri. Maka rasanya pikiran saya terlalu jauh berpikir tentang anak yang merupakan satu tahap setelah mempunyai pasangan hidup sedangkan saat ini saya belum mempunyai pasangan hidup. Tapi Biarlah ironi hidup, toh suatu saat nanti pasti ironi tersebut berubah menjadi realita.

Siang itu masih terik tapi beberapa lambaian angin membelai kulit. Sedikit sejuk.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s