Kebanggaan Orang Tua

“Kang boleh minta saran?” tanya salah seorang adik mentor saya sore itu didalam forum Mentoring. Sore yang dingin ketika hujan mengguyur bandung

“Oh boleh…” ijin saya

“Gini kang, menurut akang bagusnya gimana sih ketika ada orang yang tua yang membanggakan anak-nya kepada orang lain dengan sebuah kebanggaan yang sebenarnya si anak tersebut tidak yakin apakah ia benar seperti atau bisa seperti. Karena sebuah beban yang cukup berat ketika orang tua membanggakan anaknya dengan sesuatu yang si anak tersebut merasa bukan sebuah kebenaran atau tidak merasa bisa merealisasikan kebanggaan orang tuanya tersebut. Nah menurut akang bagaimana sih sebaiknya sikap si anak tersebut?”

Saya tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, saya membutuhkan beberapa saat untuk mencari jawaban yang pas dari pertanyaan adik mentor saya tersebut. Saya ingin memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan.

“gini..sebenarnya ketika orang tua membanggakan anak-nya dihadapan orang lain itu tidak salah” saya memulai menjawab.”tidak ada yang salah dengan kebanggaan orang tua atas anaknya. Bahkan itu sesuatu yang biasa. Orang tua mana sih yang tidak membanggakan anak-nya, bahkan sesuatu yang aneh ketika orang tua tidak membanggakan anak-nya atau lebih parah malah merendahkan anak-nya sendiri” saya berhenti beberapa saat untuk memastikan adik mentor saya memperhatikan jawaban saya dan memahaminya.

“Nah ketika si anak merasa kebanggaan orang tua-nya tidak sesuai atau merasa tidak mampu merealisasikannya maka jangan malu atau menjadi marah kepada orang tua tapi buktikan dengan sebuah kebanggaan lain kepada orang tua-nya yang sesuai dengan kemampuan si anak. Orang tua pasti bangga akan prestasi yang dibuat si anak walaupun tidak sama dengan kebanggaan yang sebelumnya orang tua proklamirkan kepada orang lain. Itu pasti. Karena pada dasarnya orang tua hanya ingin sebuah prestasi yang membanggakan dari anaknya terlepas apakah kebanggaan tersebut sesuai dengan harapan orang tua-nya maka orang tua tetap akan membanggakan-nya kepada orang lain”

Saya melihat adik mentor saya yang memberikan pertanyaan tersebut dan saya melihat seperti sebuah kepuasaan dari bahasa tubuhnya. Lalu saya menyapu pandangan kepada adik mentor saya yang lain berharap mereka pun memerhatikan dan memahami penjelasan saya. Ketika itu suasana hening beberapa saat setelah saya mengakhiri penjelasan jawaban dari pertanyaan salah satu adik mentor saya. Hanya suara gemericik hujan yang mulai mereda.

“Saya yakin kalian pernah mengalami hal seperti itu. Ketika orang tua kalian membanggakan kalian dengan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan diri kalian. Saya pun pernah. Tapi kebanggaan yg tidak sesuai kenyataan dari orang tua kita jangan membuat kita marah dan benci kepada orang tua kita. Jangan pernah. Ingat orang tua kita adalah orang yang sangat bangga akan diri kita. Apakah kita membanggakan atau tidak, orang tua kita pasti tetap akan membanggakan kita anaknya sendiri dengan kebanggaan-kebanggaan yang lain. Orang tua kita seperti mencari 1000 alasan untuk membanggakan diri kita anaknya. Yang harus kita lakukan sebagai anaknya adalah memberikan prestasi yang membanggakan kepada orang tua kita yang sesuai dengan kemampuan diri kita” pikir saya

Suasana pun masih hening. Tetes air hujan mulai mereda. Seperti memberikan suara latar sore itu ketika adik-adik mentor saya yang sedang berpikir. Berpikir untuk mencari cara untuk lebih membanggakan orang tuanya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s