Tumpul Tanpa Diasah

    Kemarin saya mengikuti tes kerja disebuah perusahaan IT. Saya melamar bagian python developer,sebuah bahasa pemrograman yang saya kuasai sejak saya menyusun Tugas akhir ketika kuliah diploma di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saya sendiri memilih bahasa pemrograman ini untuk menyusun tugas akhir, karena saya tidak ingin membuat tugas akhir dengan tema bahasa pemrograman atau aplikasi yang sudah  banyak digunakan mahasiswa lain untuk menyusun tugas akhir. Saya ingin menyusun tugas akhir yang berbeda dengan tugas akhir mahasiswa lain.

    Saya mendapat informasi lowongan pekerjaan tersebut dari salah satu penyedia lowongan pekerjaan online maka saya pun mengirim lamaran melalui email. sebenarnya saya mengirim lamaran bagian python developer ke perusahaan tersebut sedikit main-main saja, karena saya pernah beberapa kali mengirim lamaran melalui email selalu saja tidak ada kabar atau informasi lebih lanjut. Maka saya hanya sedikit main-main saja. Ditindak lanjuti oleh perusahaannya alhamdulillah, kalaupun tidak ya saya syukur. Dan ternyata perkiraan saya sedikit meleset, ternyata email lamaran saya ditindak lanjuti oleh perusahaan tersebut dan saya diminta datang ke kantor perusahaan tersebut untuk mengikuti serangkaian tes yaitu tes tulis & tes praktik. Ada rasa grogi ketika saya diminta datang untuk mengikuti serangkaian tes kerja tersebut.

“deg…deg…deg…deg…” begitu bisik jantung-ku

    Bukan karena grogi untuk dites, tapi grogi karena sudah sekitar satu tahun saya tidak “berinteraksi” dengan programming (pemrograman komputer) python.

    Maka hari itu datanglah saya ke kantor perusahaan tersebut dengan sedikit perasaan grogi tetapi disamarkan dengan ketenangan. Ketika memulai tes saya cukup grogi, karena selain perusahaan tersebut cukup besar juga saya sudah sekitar 1 tahun tidak “berinteraksi” dengan programming. Maka Tak ayal hari itu saya double grogi menghadapi tes kerja hari itu. Tes kerja dimulai dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang tanpa istirahat atau lebih tepatnya saya ingin sampai beres, karena pihak dari perusahaan tersebut menawarkan untuk istirahat tapi saya menolak dan ingin meneruskan tes hingga akhir walaupun sebenarnya perut saya sudah “keberatan” dan “berdemonstrasi”.

“ Grrrrr…kami butuh makanan..kami butuh makanan…kami tidak butuh tes kerja..!!!” begitu kira-kira teriakan dari perut yang berdemonstrasi, keberatan akan perlakuan saya.

    Tapi tak saya indahkan, karena saya betul-betul berkonsentrasi ingin menyelesaikan tes tersebut. Tapi lamanya saya tidak “berinteraksi” dengan programming membuat saya serasa tumpul & seperti seseorang yang baru “berinteraksi” dengan programming.

    Tepat pukul 2 tes kerja selesai atau lebih tepatnya saya terpaksa menyudahinya karena dari pihak perusahaan tersebut tidak menentukan tes (benar-benar sebuah kelapangan tes kerja yang pertama kali saya rasakan). Setelah saya menyerahkan hasil tes kerja saya kepada penguji, tanpa basa-basi saya langsung pulang meninggalkan kantor perusahaan tersebut. Sepanjang perjalanan saya berpikir dan menyadari sebuah nilai dari tes kerja yang saya hadapi hari itu.

“Bener..setahun ngga ngoding, sekalinya ngoding serasa tumpul..” pikirku

    Tanpa bermaksud sombong, jujur saja dulu atau lebih tepatnya ketika saya masih berkuliah tingkat diploma saya mempunyai sedikit kemampuan programming. Tapi setelah setahun saya tidak lagi programming, maka seakan-akan kemampuan tersebut seakan menguap hilang. Maka saya pun menyadari bahwa sebuah kemampuan apapun, sehebat apapun saya menguasainya maka hanya akan menjadi semacam pajangan dalam kotak kaca bila saya tidak terus mengasahnya. Jangan pun hanya sebuah kemampuan yang sebelumnya dipelajari, seorang yang jenius pun rasanya tanpa mengasah kecerdasannya bukan tidak mungkin akan menjadi tumpul juga kecerdasannya. Maka terus mengasah kemampuan akan sebuah keniscayaan agar kemampuan tersebut tidak menguap hilang. Tapi faktanya tidak sedikit orang yang merasa bahwa dirinya telah memiliki kemampuan yang sangat hebat, alih-alih terus mengasah kemampuan, mereka hanya membanggakan kemampuan tersebut.

    Maka saya saat ini menyadari bahwa kemampuan yang saya miliki saat ini, akan menguap bila tidak diasah terus menerus.

    Terus asahlah kemampuan dan janganlah sombong ..

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s