Sedikit Kekelaman Masa Lalu saya

    Ingin sedikit bercerita sedikit bagian masa lalu saya yang kelam. Bukan saya ingin bernostalgia atau membanggakan kejelekan masa lalu, tetapi semata-mata sebagai sebuah hikmah hidup yang saya terus resapi sampai saat ini & ingin saya bagikan. bahwa saya dan mungkin setiap kita mempunyai masa kelam, menurut saya tidak ada salah dengan masa lalu yang kelam. wajar. hanya saja menjadi tidak wajar ketika kekelaman masa lalu menjadikan diri tidak ingin berkembang.

    Ketika saya bersekolah tingkat Sekolah Dasar, bisa dibilang saya termasuk siswa cerdas ketika itu. yang menjadi ukurannya adalah rangking (entah semua orang sepakat atau tidak), sejak kelas 1 sampai kelas 6 saya selalu berada dirangking 2 besar. rangking terburuk saya adalah rangking 2, selebihnya pasti saya menempati rangking 1. seakan saya tidak mempunyai saingan. Tetapi kegemilangan masa SD saya tidak berlanjut pada masa SMP (Sekolah menengah pertama), ketika SMP rangking terbaik saya adalah rangking 6 dan itupun saya dapat ketika saya kelas 1. setelah itu rangking saya terus menurun, bahkan ketika pemantapan UAN saya termasuk pada kelas E atau rangking ke 2 dari bawah kelas yg berisi siswa-siswa yang kurang baik akademiknya (saya tidak berani menulis bodoh, karena mungkin siswa-siswa dikelas ini pintar tetapi belum mendaya gunakan kepintarannya saja). Sebuah kondisi yang benar-benar berbeda 180 derajat dengan kondisi saya ketika masih menjadi siswa SD dulu.

    Saya baru menyadari bahwa perbedaan kondisi tersebut disebabkan 1 hal yaitu “kegilaan” saya pada sebuah permainan bernama Play Station. Memang saya sangat menggandrungi game, ketika saya masih menjadi siswa SD pun saya sudah menggandrungi game tetapi kegandrungan saya pada game ketika masih menjadi siswa SD masih normal atau masih dapat dikendalikan. berbeda ketika saya menjadi siswa SMP, kegandrungan saya pada game benar-benar sangat menggila dan keluar dari batas kenormalan. Saya masih ingat ketika itu, saya masih sempat-sempatnya bermain Play Station  1 jam sebelum masuk sekolah bahkan pernah saya sampai telat 1 jam masuk sekolah karena sebelumnya saya bermain permainan ini. Bahkan lebih parah lagi saya sempat juga bermain judi dengan media permainan ini.

    Ketika itu saya seperti tidak mempunyai beban apapun, padahal prestasi akademik saya terus menurun sampai pada titik kritis. orang tua saya pun terus memperingati saya, tetapi peringatan dari orang tua saya seakan hanya angin lalu yang tak saya indahkan. Puncak kesabaran orang tua saya adalah ketika saya akan dimasukkan ke pesantren (seakan pesantren adalah tempat orang-orang yang tidak benar, padahal faktanya tidak seperti itu. ketika saya dulu belajar dipesantren saya menemukan orang-orang dengan kelebihan akademik maupun non akademik yang sangat saya kagumi). Karena orang tua saya berkeyakinan bahwa pesantren mampu membuat saya menjadi lebih baik (kepribadian maupun pendidikan apalagi agama). Awalnya saya sangat menolak untuk dimasukan ke pesantren ketika itu, karena saya berpikir bahwa nantinya kebebasan saya akan sedikit terkekang dengan aturan-aturan pesantren yang cukup ketat dan kejam (dalam bayangan saya). Penolakan saya ternyata bisa dipadamkan dengan rayuan ibu saya. saya ingat betul rayuan ibu saya yang sangat manjur adalah ketika saya, ibu saya & bapak saya sedang mencetak foto pada malam hari untuk keperluan ijazah.

” Daek teu masantren (Mau ga masuk pesantren)??” tanya ibu saya
saya jawab dengan diam yang artinya saya tidak mau
“kunaon alim masantren (kenapa ga mau masuk pesantren??”
Lagi saya jawab dengan diam
“Nya sebenarna mah keur ibu mah teu masalah sakola dimana oge asal bener. ngan maksud ibu jeung bapa masantrenkeun teh supaya lebih bener & sholeh laen ngabuang. jaman ayeuna loba nu ngajak ka nu teu bener, esa (panggilan saya) ayeun sok maen PS bisa wae ke maen obat-obatan (narkoba). tah ibu jeung bapa embung sampe esa urusan jeung nu kitu (narkoba). nah lamun dipesantren mah kan aya nu ngawasi, syukur-syukur mun beprestasi. tapi intina ibu jeung bapa mah hayang esa jadi leuwih bener jeung sholeh. era ka esa na engke mun jiga kieu terus mah. nya daek nya masantren?” Rayu Ibu saya

(Ya sebenarnya buat ibu gak masalah sekolah/belajar dimanapun yang penting benar. tapi maksud ibu & bapak Memasukan ke pesantren agar lebih benar & sholih bukan bermaksud mencampakkan. Zaman sekarang banyak orang-orang yang mengajak pada sesuatu yang tidak benar/salah, Esa sekarang suka main PS bisa saja nanti bermain dengan obat-obatan (narkob). nah Ibu & Bapak tidak mau sampai esa berurusan dengan hal seperti itu (narkoba). Kalau di pesantren nanti akan ada yang mengawasi, ya syukur kalau berprestasi juga. tetapi intinya ibu & bapak ingin esa jadi lebih baik lagi & sholeh. malu kalau nanti kondisi-nya seperti ini terus. mau ya masuk pesantren??)

Lagi-lagi Rayuan & permintaan ibu saya tersebut dijawab dengan diam oleh saya sembari menahan perasaan hati saya yang ingin menangis. ya rayuan ibu saya yang terakhir benar-benar telah menyentuh perasaan saya, ternyata anggapan saya dari maksud ibu & bapak saya untuk memasukkan saya ke pesantren ternyata salah. Ada maksud dari ibu & bapak saya yang tidak saya tangkap sebelumnya, tetapi rayuan ibu saya membuat saya bisa menangkap maksud sesungguhnya dari tujuan saya dimasukan ke pesantren. Dan saya pun sempat berpikir lama sebelum saya memutuskan apakah saya akan mengikuti saran ibu & bapak saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran ibu & bapak saya. sebuah keputusan besar yang pernah saya buat dalam hidup saya.

    Dan dimulai-lah pengembaraan saya untuk menjadi seorang yang lebih baik dan pengembaraan untuk mencari jati diri saya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s