Rekor & Gaya Membaca

   

   Kegemaran saya membaca buku dimulai ketika saya menuntut ilmu dipondok pesantren dulu, sebelum saya memasuki pondok pesantren maka saya sama tidak gemar dalam membaca buku. Bisa dibilang kegemaran saya membaca buku ketika menuntut ilmu dipondok pesantren adalah sebagai hiburan, karena sudah menjadi peraturan dikalangan santi pondok pesantren bahwa setiap santri pondok pesantren tidak bisa dengan bebas keluar dari lingkungan pondok tapi ada kebijakan/peraturan yang terkesan menghambat/menghalangi setiap santri untuk keluar pondok. Kebijakan atau peraturan itu bukan semata untuk “memenjarakan” santri didalam pondok pesantren, tetapi justru untuk mengajarkan kedisiplinan kepada para santri walaupun tetap saja beberapa santri masih terlalu pintar untuk diatur oleh kebijakan atau aturan tersebut.

    Saya membaca buku sebagai hiburan karena memang tidak ada hiburan lain, sekedar televisi pun sangat dibatasi. Dalam sehari mungkin hanya 2 jam untuk menonton televisi dan itu pun tidak semua channel bisa ditonton. Benar benar sangat diatur. Oleh karena itu saya mencoba mencari alternatif hiburan yang bisa membunuh kebosanan dengan kehidupan pondok pesantren yaitu dengan membaca buku, dan ternyata buku berhasil membunuh sedikit kebosanan yang saya rasakan. Buku telah berhasil bukan hanya menghibur dan membunuh sedikit kebosanan tetapi juga menambah pengetahuan dan pemahaman saya.

    Kegemaran membaca buku untuk hiburan ini ketika dipondok pesantren ternyata telah memecahkan rekord dalam membaca buku. Bukan Rekor dunia tetapi rekor pribadi semata, jadi benar-benar subjektif penilaian saya pribadi. Rekor pribadi dalam membaca buku tersebut adalah saya bisa membaca & menamatkan membaca novel Ayat – ayat Cinta hanya dalam waktu 3 jam. Novel ayat-ayat cinta yang sekitar 400 halaman lebih itu (kalau saya tidak salah) saya mulai baca dari setelah shalat maghrib sekitar jam 18.30 sampai jam 21.00 (tentu saja telah dipotong shalat isya). Bagi saya pribadi itu benar-benar rekor karena novel dengan halaman yang lumayan banyak bisa saya tamatkan hanya dalam waktu 3 jam. Tetapi yang menjadi lucu kenapa saya bisa menamatkan novel tersebut hanya dalam waktu 3 jam adalah karena novel itu sebenarnya sedang dibaca oleh teman yang berasal dari satu daerah yaitu sukabumi, dan saya membaca novel itu ketika teman saya tidak sedang membacanya dan tanpa seizin teman saya pula. Saya benar-benar terlarut dalam cerita & gaya bahasa habiburahman al shirazy dalam novel tersebut sehingga saya terus bersemangat membaca novel tersebut sampai akhir dan saya bertekad harus membacanya sampai akhir karena bila tidak membacanya sampai akhir saat itu juga, maka bisa jadi saya tidak akan bisa lagi membacanya kapan pun juga karena bisa jadi teman saya akan membacanya. Oh ya ketika itu saya sedang tidak akur teman saya tersebut. Benar benar motivasi yang lucu tetapi menghasilkan sebuah rekor membaca bagi saya pribadi.

    Selain karena novel itu sedang dibaca oleh teman saya, yang membuat saya mampu menamatkannya hanya dalam jangka waktu 3 jam adalah mungkin karena gaya membaca yang saya kembangkan. Ya dalam aktivitas membaca saya mempunyai gaya yang menurut saya khas dan sesuai dengan diri saya yang tidak terlalu menyukai hal-hal kecil atau remeh serta kelemahan saya dalam mengingat atau menghafal. Ketika saya membaca sebuah tulisan atau buku maka saya membacanya secara global/umum apa maksud dari tulisan tersebut dengan mengenyampingkan hal-hal kecil atau remeh. Ketika Saya membaca sebuah tulisan maka saya mencoba memahami apa yang disampaikan sang penulis dari tulisan tersebut, dan saya tidak mencoba untuk memerhatikan hal-hal kecil atau bahkan mengingat tulisan karena ketika saya mencoba memerhatikan hal-hal kecil atau mengingat tulisan tersebut maka akan membuat saya tidak akan pernah mendapatkan pemahaman apapun dari tulisan tersebut. Oleh karena saya mengembangkan gaya membaca dengan memahami secara global maksud dari si penulis dalam membuat tulisan tersebut, gaya tersebut sangat sesuai dengan kecenderungan saya yg lebih mampu memahami sesuatu dibandingkan mengingat sesuatu karena bisa dibilang saya sangat lemah dalam mengingat atau menghafal.

    Gaya membaca yang saya kembangkan dan gunakan ini mungkin bisa digunakan untuk sebagian orang dan mungkin tidak bisa digunakan oleh sebagian orang bergantug pada kecenderungan orang dalam membaca sebuah tulisa. Gaya membaca bisa dikembangkan oleh siapapun sesuai kecenderungan orang yang mengembangkannya, contohnya saya yang mengembangkan gaya membaca yang menekankan pemahaman pada maksud si penulis dengan mengesampingkan hal-hal kecil/remeh dalam tulisannya karena diri saya yang lemah dalam menghafal tetapi cukup kuat dalam memahami.

    Gaya membaca harus dikembangkan oleh setiap orang yang ingin menjadi seorang gemar membaca atau belum gemar membaca, karena dengan mengembangkan gaya membaca yang sesuai dengan individu yang mengembangkannya akan membuat aktivitas membaca lebih efisien (efisien dari segi waktu) serta lebih mendatangkan pemahaman hasil membaca-nya dibandingkan hanya membaca baris baris tulisan atau kelompok kelompok paragraf tulisan saja.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s