Tawaran Menggiurkan

    Masih ingat betul sekitar satu tahun yang lalu saya mendapatkan tawaran yang menggiurkan bagi saya sebagai seorang laki-laki dari kakek saya. Kakek saya dari ibu yang saya sering sebut aki, menawarkan kepada saya seorang wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri. Waw…

    Wanita yang ditawarkan kakek ini menurut saya mempunyai background keluarga yang cukup wah, karena keduanya orang tuanya telah menunaikan ibadah haji serta mempunyai kecukupan dari segi materiil (bahkan kelebihan) selain itu kakek saya pun memuji wanita ini sebagai wanita yang cantik. Kalau hanya kakek saya yang bilang wanita ini cantik mungkin saya biasa saja karena setiap laki-laki mempunyai standar mengenai kecantikan wanita yang berbeda, tapi ternyata nenek (saya sering menyebut nenek saya dengan sebutan eni) dan ibu saya pun mengamini pendapat kakek saya bahwa wanita yang ditawarkan kakek kepada saya memang cantik. Wah klo udah ibu saya yang mengatakan wanita cantik, maka saya harus percaya, karena penilaian ibu saya mengenai seseorang tidak pernah salah apalgi kalau hanya sekedar penilai fisik semata. Waw…

    Bisa dibilang tawaran kakek saya cukup menggiurkan, wanita yang (katanya) cantik serta mempunyai background keagamaan yang cukup kental dan berada.hmmm benar-benar tawaran menggiurkan bagi laki-laki manapun.

    Tetapi tawaran yang menggiurkan tidak saya terima begitu saja, dengan setengah bercanda dan setengah serius saya bilang siap menerima tawaran itu tapi dengan syarat harus sepaket dengan rumah yang akan ditinggali oleh saya dan wanita itu bila resmi menjadi istri saya.

    Mungkin orang lain menilai saya sebagai seorang yang materialistis, sudah ditawarin wanita yang lumayan wah tetapi ngelunjak minta syarat rumah. Silahkan saja orang menilai saya sebagi materialistis, tetapi tujuan dari syarat rumah tersebut bukanlah semata-mata materi tetapi lebih dari itu. Tujuannya adalah agar saya bersama istri saya kelak bisa membina keluarga saya secara mandiri tanpa ada campur tangan dari keluarga atau orang tua saya maupun orang tua istri saya, tetapi bukan berarti saya tidak membutuhkan bantuan orang tua. Saya tetap sangat membutuhkan orang tua, tapi biarlah kebutuhan saya kepada orang tua cukup pada bimbingan dan nasehat dalam membina keluarga saja, tidak sampai mencampuri membina keluarga saya. Saya mempunyai tekad ketika nanti saya menikah maka ketika itu juga saya sudah mandiri tidak lagi bergantung kepada orang tua saya. Maka mungkin diawal saya akan selalu tanyakan kepada calon istri saya : “Siap hidup melarat ga?”. Bukan saya bermaksud menakuti dengan pertanyaan tersebut tetapi agar calon istri saya kelak tidak terdzolimi dengan idealisme saya dalam berkeluarga, lebih baik diawal banyak penolakan dari pada dipertengahan ada penyesalan.

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s