Fiqih Prioritas (Sebuah Pengingat)

   Sebenarnya Tulisan pendek ini adalah tulisan yang saya publish disebuah grup,  Tulisan ini merupakan sebuah rangkuman pemahaman saya hasil dari membaca buku Fiqih Prioritas Karya Dr.Yusuf Al-Qardhawi. tapi saya ingin membagikannya mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membagi

Bismillah..

Apa itu Fiqih ?

  Fiqih atau fiqh (bahasa Arab:ﻓﻘﻪ) adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.Beberapa ulama fiqih seperti Imam Abu Hanifah mendefinisikan fiqih sebagai pengetahuan seorang muslim tentang kewajiban dan haknya sebagai hamba Allah. Fiqih membahas tentang bagaimana cara beribadah, tentang prinsip Rukun Islam dan hubungan antar manusia sesuai dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam Islam, terdapat 4 mazhab dari Sunni, 1 mazhab dari Syiah, dan Khawarij yang mempelajari tentang fiqih. Seseorang yang sudah menguasai ilmu fiqih disebut Faqih. 

Fiqih Prioritas ?

    Mengenai pengertian Fiqih Prioritas, Dr.Yusuf Al Qardhawi menulis dalam buku Fiqih Prioritas :

“yang saya maksud dengan istilah tersebut (fiqih prioritas) ialah meletakkan segala sesuatu pada pringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai & pelaksanaannya. pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih yang diberi petunjuk dan diterangi oleh akal.
S
ehingga sesuatu yang sesuatu yang tidak penting, didahulukan atas sesuatu yang penting. sesuatu penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. sesuatu yang tidak kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). dan sesuatu yang biasa-biasa saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama atau yang paling utama.
sesuatu yang semestinya didahulukan harus didahulukan dan yang semestinya diakhirkan harus diakhirkan. sesuatu yang kecil tidak perlu dibersarkan dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. setiap perkara mesti diletakkan di tempatnya dengan seimbang dan luruh, tidak lebih dan tidak kurang.”

 kenapa ada fiqih prioritas karena sesungguhya nilai, hukum, pelaksanaan dan pemberian kewajiban menurut pandangan agama ialah berbeda-beda satu dengan lainnya. semuanya tidak berada pada satu tingkat. yang menjadi dalli dari pandangan ini diantaranya adalah : 
1. at-taubah 19-20
2.hadits rasul :

“iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, yang paling tinggi diantaranya ialah ‘la ilaha illa Allah” dan yang paling rendah ialah ‘menyingkirkan gangguan dari jalan” (diriwayatkan oleh al-jama’ah dari abu hurairah)

 Pentingnya Fiqih Prioritas ?

  1. Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat
  2. Penyimpangan Orang-orang beragama dewasa ini dalam Fiqih prioritas

    umat muslim dewasa ini banyak melakukan penyimpangan terhadap masalah fiqih, ini disebabkan kebanyakan mereka tidak mendapatkan cahaya ilmu pengetahuan dan arahan dari fiqih yang benar. mereka telah memusnahkan batas antara pelbagai macam amalan dan tidak membedakannya satu sama lain atau mereka menetapkannya di luar hukum agama. contoh: seorang muslim yang melaksanakan haji berulang kali (padahal kewajiban berhaji hanya sekali, selebihnya sunnah) akan tetapi manakala dana mereka diminta membantu kaum muslimin di palestina, serbia, bosnia dan ditempat lainnya mereka enggan. padahal telah ada ketetapan dengan jelas didalam al-qur’an bahwa jenis perbuatan perjuangan itu lebih utama daripada jenis perbuatan ibadah haji  sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT :

“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus masjid al-haram, kamu samakan degnan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad dijalan Allah? mereka tidak sama disi allah. dan allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum muslimin yang dzalim. orang-orang yang beriman dan berhijrah di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah. dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya eksenangan yang kekal” (at-taubah 19-21)

   itulah salah satu contoh penyimpang muslim dalam fiqih prioritas selain penyimpangan lain diantaranya adalah : mereka memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memperdulikan ibadah-ibadah individual dibanding ibadah-ibadah sosial, lebih memperdulikan masalah-masalah furu’iyah & mengabaikan masalah-masalah pokok, lebih memerangi hal-hal yang makruh & syubhat dibanding memerangi hal-hal yang diharamkan, memperhatikan sebagian perbuatan sunnah dibanding perbuatan fadhu & wajib dan masih banyak lagi

   Peran terpenting yang dilakukan oleh fiqih pertimbangan ialah :

  1. memberikan pertimbangan antara berbagai kemashlahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyariatkan
  2. memberikan pertimbangan antara berbagai bentuk kerusakan, madharat & kejahatan yg dilarang agama
  3. memberikan pertimbangan antara mashlahat & kerusakan, antara kebaikan dan kejelekan apabila 2 hal yg bertentangan ini bertemu satu sama lain

 Prioritas-prioritas

1. Memprioritaskan kualitas atas kuantitas
  
Umat islam saat ini bagai buih, banyak jumlahnya tapi banyaknya tersebut tidak memberikan dampak yang besar bagi umat manusia atau bahkan lebih parahnya umat islam yang memberikan kontribusi berbagai kerusakan yang terjadi di dunia ini maupun islam. allah berfirman:

“..akan tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya” (al-ankabut 63)

   padahal apabila dibandingkan dengan jumlah umat islam ketika diawal penyebarannya maka jumlahnya dulu sangatlah sedikit, tetapi jumlah yang sedikit itu telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi islam. benar rasanya hadits rasul:

“pada suatu hari kelak, umat-umat akan memusuhi kalian dari segala penjur. seperti orang-orang lapar yg memperebutkan makanan.”para sahabat bertanya.”apakah karena jumlah kami yg sedikit pada masa itu wahai rasullah?” Rasullah menjawab, “bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak akan tetapi kalian hanya bagaikan buih yang terbawa arus air. dan sungguh allah akan mencabut rasa takut dari dada para musuh kalian. dan sungguh allah akan menghujamkan wahn di dada kalian.”para sahabat bertanya kembali, “apakah wahn itu wahai rasullah?” rasullah menjawab, “Cinta dunia dan takut mati” (Diriwayatkan olah ahma dan abu dawud dari Tsauban)

   Memang terpenuhinya kualitas dan kuantitas secara bersamaan adalah sangat ideal & lebih utama, tetapi faktanya kadang kita menemukan ketidak ideal-an yg membuat kita harus mengutamakan salah satunya.
   Lalu pertanyaannya bagi para ADK adalah sejauh kita berdakwah sampai saat ini manakah yg lebih kita utamakan banyaknya manusia atau berkualitasnya 

2.Prioritas Ilmu atas amal
   diantara pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas ilmu atas amal. ilmu harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Rasullah pun pertama-tama memerintahkan umanya untuk menguasai ilmu tauhid, baru kemudian memohonkan ampunan yang berupa amal perbuatan. dalil dari prioritas ilmu atas amal ini adalah wahyu pertama yang memerintahkan membaca (yang sangat berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan). apabila seseorang beramal tanpa berilmu maka akan berakibat seperti ucapan khalifah umar bin abd al-Aziz

“Barang siapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak dari pada apa yang dia perbaiki”

   Bagi seorang da’i (dalam hal ini saya ingin mengaitkan dengan ADK) maka ilmu pengetahuan adalah syarat mutlak. Allah SWT berfirman :

“katakanlah: ini jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata..” (yusuf: 108)

   setiap juru dakwah –dari pengikut nab SAW– harus melandasi dakwah-nya dengan hujjah yang nyata. artinya dakwah yang dilakukan olehnya mesti jelas, berdasarkan kepada hujjah-hujjah yang jelas pula. dia harus mengetahui akan dibawa kemana orang yang didakwahi olehnya? siapa yang dia ajak? dan bagaimana cara dia berdakwah? 
   Lalu pertanyaannya bagi para ADK adalah sudah sejauh mana antum, saya & kita memahami dakwah ini? apa yang dakwah ini minta dari kita? hasil apa yang diinginkan oleh dakwah ini? dan pengorbanan apa yang telah kita siapkan untuk dakwah ini

 3.Prioritas Amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat 
   Diantara prioritas yang sebaiknya diterapkan dalam pekerjaan manusia adalah prioritas terhadap perbuatan yang banyak mendatangkan manfaat kepada orang lain. sebesar manfaat yang dirasakan oleh orang lain, sebesar itu pula keutamaan dan pahalanya disisi allah SWT. oleh karena itu, jenis perbuatan jihad adalah afdal dari pada ibadah jihad, karena manfaat ibadah haji hanya dirasakan oleh pelakunya sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh umat. seperti firman allah SWT dalam at-taubah 19-20. Salah satu hadits menyatakan : 

“sesungguhnya allah SWT dan para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi. hingga semut yg ada pada lubangnya, dan ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan shalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”(diriwayatkan oleh tirmidzi dari abu umamah)

   ini adalah salah satu hadits yang bisa dikatakan berkaitan dengan prioritas amalan yang luas manfaatnya dibandingkan amalan yang kurang bermanfaat.
   Lalu pertanyaannya bagi para ADK adalah sudah berapa banyak kah kita melakukan hal-hal yg kurang bermanfaat? apakah kita sering mengutamakan kegiatan-kegiatan seremonial dibanding agenda-agenda dakwah & tarbiyah? apakah kita lebih mengutamakan kepentingan diri kita sendiri dibanding kepentingan dakwah yg berhubungan dengan kepentingan orang banyak/mad’u kita?

4.Prioritas Hak Masyarakat atas Hak Individu
   Priortas Hak Masyarakat/Orang banyak harus didahulukan atas hak individu karena sesungguhnya individu tidak dapat mempertahankan dirinya tanpa orang lain karena manusia adalah mahluk sosial.
   Lalu Pertanyaannya bagi para ADK adalah sudah berapa seringkah kita menunaikan hak kita atas mad’u-mad’u kita dalam menyampaikan ajaran islam? atau kita lebih sering mengutamakan hak kita sendiri saja?

   Sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah prioritas yang harus kita ketahui agar tidak terjebak pada kesalahan dalam memilih prioritas tapi saya hanya menuliskan hal-hal yang saya rasa perlu untuk ADK ketahui saja. saya tulis ini sebenarnya berangkat dari rasa miris yang saya rasakan ketika berinteraksi ADK dikampus yang seperti tidak bisa menentukan prioritas (mudah-mudahan kita tidak termasuk didalamnya) dalam melakukan pekerjaan.
    ada yang lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat seremonial dibanding hal-hal yang lebih bermanfaat (mudah-mudahan bukan beranjak dari rasa ujub atau riya..naudzubillah)..
    ada yang beramal tetapi landasan ilmu/pemahamannya ditinggalkan..
    ada yang menyisakan waktu untuk berdakwah, bukan menyiapkan waktu untuk berdakwah…
    ada yang berdakwah tetapi melupakan aspek pembinaan/tarbiyah..
    dan masih banyak lagi…

   tulisan ini bermaksud untuk menyindir??
   tidak!!. tulisan ini tidak bermaksud menyindir, tetapi mengingatkan. salahkah?? saya rasa tidak karena saya merasa harus melakukannya agar antum, saya & kita semua tidak lagi salah dalam menentukan prioritas, terutama prioritas dalam beramal dan berdakwah. kesalahan dalam menentukan prioritas bisa jadi menyebabkan efek yang fatal dalam aktifitas dakwah terutama dakwah kampus.
    saya menulis dokumen ini karena saya ingin kampus itu mempunyai suasana:
  ketika pagi maka masjid penuh dengan mahasiswa yang menunaikan shalat dhuha & membaca matsurat/al-quran 
  ketika adzan berkumandang masjid penuh, tempat-tempat selain ruang kuliah yang digunakan untuk kuliah sepi..
  selesai shalat maka masjid penuh dengan mahasiswa yg bertilawah & menghafal al-quran
  ketika sore maka masjid penuh dengan lingkaran-lingkaran yang mempelajari hal-hal keislaman
  di ruang-ruang kuliah ada batas jelas laki-laki perempuan
  mahasiswi-mahasiswi berjilbab, maupun yang tidak berjilbab maka memakai pakaian yg sopan & tidak adal lagi pamer “kemesraan” laki-laki perempuan yang bukan muhrimnya
  kampus diwarnai-warnai kegiatan-kegiatan ilmiah & jauh-jauh dari hal-hal yang bersifat hura-hura
  dan masih banyak lagi suasana kampus seperti diatas, maka saya berharap antum, saya & kita semua adalah yang merealisasikannya bukan malah yang menghambatnya…

 akhir tulisan mudah-mudahan ada yang “tergelitik” kesadaran akan posisinya sebagai muslim/muslimah serta da’i/da’iyah…

 wallahu allah a’alam bisshowab…

(sumber tulisan : Buku Fiqih Prioritas Karya Dr.yusuf al-qardhawi).

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s