Hidup Yang Datar

“Let it’s Flow”

   Itulah Filosofi segelintir orang dalam menjalani Hidup. membiarkan hidup mengalir apa adanya mengikuti arus besar dan membiarkan hidupnya terbawa oleh arus. salahkah Filosofi hidup seperti itu?

   Tidak salah ketika setiap orang mempunyai filosofi dalam menjalani hidup, karena setiap orang mempunyai kekhasan masing-masing dalam menjalani hidup, karena sesungguhnya filosofi hidup seseorang itu merupakan akumulasi segala nilai dan pengalaman yang ia dapat selama ia hidup dan berinteraksi dengan kehidupan. filosofi seorang yang berasal dari suku sunda dengan filosofi orang yang berasal dari suku batak pasti tidak akan sama percis karena latar belakang budaya masyarakat diantara keduanya atau filosofi seorang yang berasal dari indonesia dengan filosofi seorang yang berasal dari Malaysia tidak akan sama bahkan filosofi seorang anak dengan orang tuan-nya pun terkadang berbeda. maka perbedaan filosofi dalam menjalani kehidupan adalah kewajaran.

   Tetapi dengan filosofi “Let it’s Flow” atau biarkan-lah mengalir apa adanya adalah filosofi orang yang hidup tanpa tujuan bahkan impian, ia hanya menjalani hidup sesuai trend disekelilingnya. ketika orang lain hidup dengan gaya hedon-nya maka ia pun mengikuti, lalu ketika orang lain hidup dengan gaya liberal yang serba permisif maka ia pun mengikuti. ia tak ubahnya bunglon dalam menjalani kehidupan, menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. ia tak ubahnya daun kering yang terbawa arus sungai.ia tak punya prinsip & tujuan yang jelas dalam kehidupannya sehingga menghasilkan filosofi Let It’s Flow dalam kehidupannya.

   Dengan Filosofi hidup “Let it’s Flow” maka hidupnya serba ambigu dan terombang ambing. Seharusnya hidup itu seperti jalan raya, ada rambu, ada penunjuk jalan yang menunjukkan arah dari tujuan kita. ketika kita akan menuju tujuan kota tertentu maka kita akan mengikuti petunjuk arah yang berada disepanjang  jalan raya dan kita pun harus mengikuti aturan main/rambu-rambunya. ketika ada rambu tidak boleh berhenti maka kita pun tidak boleh berhenti karena ketika kita berhenti akan mengakibatkan jalanan macet, ketika rambu tidak boleh parkir maka kita pun tidak boleh parkir, ketika ada rambu untuk batas maksimal kecepatan maka kita pun harus mengikuti untuk keselamatan kita. Sampai ketika ada 2 cabang jalan maka kita pun harus tetap fokus pada tujuan kita jangan sampai kita teralihkan oleh arah lain yang sebenarnya bukan tujuan kita. Dan kita pun harus memposisikan ketika berada dijalan raya dengan jalan tol. ketika dijalan raya maka banyak sekali rambu yang harus ditaati dibandingkan dengan rambu-rambu di jalan tol, kita tidak boleh memposisikan posisi ketika dijalan raya yang penuh dengan kendaraan dengan posisi ketika dijalan tol yang bebas hambatan, karena kesalahan dalam memposisikan antara keduanya akan mengakibatkan kecelakaan lalu lintas begitupun sebaliknya.

   Hidup kita, kita sendirilah yang akan menentukan akan menjadi seperti apa bukan orang lain atau mengikuti orang lain. saya akan tutup dengan petikan sajak Chairil Anwar :

“Kita Bukanlah senar biola kehidupan
tetapi kita adalah pemain biola penghidupan”

wallhua’alam..

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s