Pagi Ini

Pagi ini mentari terlalu malu untuk tersenyum
Awan pekat telah menutup sunggingan dibibir mentari
Dingin menjalari udara menyelimuti bumi
Apakah tanda air mata langit akan menyapa
Ataukah sang raja siang siap terbangun dan menjajah bumi
Tapi Burung-burung tetap ceria dengan pagi ini
Semut-semut pun masih bekerja tanpa henti dengan titah dari ratu
Pun Lebah masih bersuka ria mengisap sari bunga

Angin sedikit berhembus
Menyapu bumi yang sudah lelah dan marah
Hanya tinggal waktunya saja bumi mengamuk
Bumi sudah sangat bersabar diinjak dan dicampakkan anak manusia
Sudah saatnya bumi mendapat sedikit belaian dari anak manusia

Sebelumnya bulan sangat cerah menebar senyum menghibur bumi
walaupun kadang gelap merampas senyumnya dan bumi bersedih
Tapi bulan tidak lelah memberi senyumnya
dan bumi pun selalu merindukan senyumnya
Kedua Kekasih ini selalu mengumbar kemesraannya
Walaupun Bumi selalu bermesraan dengan kekasihnya yang lain
si anak kecil bersinar pun kadang menghibur bumi
walaupun tak secerah bulan

Tapi anak Manusia masih saja Durhaka kepada bumi
Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Bumi
Menampar mereka
Sungguh Bumi sangat merindukan belaian dan kasih sayang anak manusia
belaian anak kepada orang tua nya
kasih sayang kekasih kepada yang dikasihinya
Terenyuh menangis bersamamu Bumi

2 pemikiran pada “Pagi Ini

  1. Wow! Amazing! Suka banget za sm puisi ini…

    Memang sprtinya bumi slalu bersabar dgn tingkah manusia yg kian merajalela…smp saatnya nanti bumi berkecamuk, smg kita berada di atas sajadahNYA

    Salam tekomp’07

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s