Masuk Surga-kah Kamu?

 

Saya akan mulai tulisan dengan pertanyaan sederhana

“Apakah kamu yakin bahwa nanti kamu akan masuk surga?” (just answer by your heart,kalau kenceng-kenceng takut disangka orang agak gila :-D)

Jawabannya hanya kamu dan allah yang mengetahui. Tetapi yang bisa memastikannya hanya Allah..ya hanya allah

“Lho ko hanya Allah?”

Ya Hanya Allah yang bisa memastikan apakah kamu pantas untuk menjadi ahli surga, kamu tidak bisa memastikan. Kamu hanya bisa berusaha agar pantas menjadi ahli surga.

Tetapi kadang manusia terlalu puas dengan amalan-amalan wajib yang seadanya pula, mereka menyangka bahwa dengan “cukup” mengamalkan amalan-amalan wajib maka manusia menyangka bahwa mereka pasti masuk surga. Padahal amalan-amalan wajib yang mereka kerjakan hanya seadanya dalam mengerjakan amalan-amalan shalih, atau lebih parahnya lagi mereka mengerjakan amalan-amalan shalih karena  motif dunia. Motif untuk harta, motif untuk kata (pujian) atau bahkan motif untuk wanita (pasangan hidup). Sehingga amalan-amalan wajib yang mereka kerjakan tidak berguna bagai buih.mereka shalat fardlu hanya untuk mendapatkan perhatian orang-orang atau calon mertua, mereka berpuasa karena terpaksa agar tetap dianggap jadi seorang muslim/muslimah atau mereka berzakat agar dianggap dermawan.

Artinya mereka beramal bukan lillahi ta’ala tetapi liddunya wa maa fiihi (dunia dan apa yang ada didalamna), tetapi celakanya mereka merasa bahwa amalan mereka yang seadanya & bahkan dengan motif bukan lillahi ta’ala itu akan masuk surganya Allah SWT. Maka bagi kamu, saya tetap mengajukan pertanyaan yang sama yaitu :

“Apakah kamu yakin bahwa nanti kamu akan masuk surga?” (lagi lagi jawabnya dalam hati biar ga malu sama jawabannya)

Manusia seharusnya mengevaluasi niat setiap amalan-amalan mereka, karena niat adalah awal perjalanan dari suatu pahala dari amal. Ketika niat dalam amal manusia lillahi ta’ala maka perjalanan pahala akan menuju kita dari Allah, tetapi ketika niat dalam amal manusia untuk dunia maka dunia akan berjalan kepada dunia (kalau akhirat? Jangan mengharap lebih deh..). Manusia seharusnya hati-hati dalam niat dan beramal.

Maka langkah awal agar manusia pantas masuk surga adalah luruskan niat dan ikhlas beramal (catet..)

Lagi-lagi saya mengajukan pertanyaan yang sama yaitu :

“Apakah kamu yakin bahwa nanti kamu akan masuk surga?” (tetep jawabnya dalam hati ya..)

Ketika manusia sudah lurus dalam niat dan ikhlas beramal, apakah ada jaminan masuk surga?

Maka jawabannya belum pasti. Lho ko?..

Iya belum pasti. Karena dalam kesehariannya, manusia kadang melakukan kemaksiatan yang tidak disadari. Karena tidak disadari maka manusia pun tidak akan menyadari banyak & continuitas mengerjakan kemaksiatan tersebut, nah bayangkan ketika manusia melakukan kemaksiatan yang tidak disadari dan pastinya mendatangkan dosa lalu manusia pun hanya mencukupkan diri dengan melakukan amalan-amalan wajib saja (bahkan secukupnya & seadanya) maka bisa pantaskan manusia menjadi ahli surga (silahkan gunakan hitung-hitungan matematis, maka besar pasak dari pada tiang). Itu baru kemaksiatan yang tidak disadari, coba kalau ditambah dengan kemaksiatan yang disadari bahkan dibudayakan maka hitungan dosanya bisa lebih besar dan lagi-lagi dengan mencukupkan diri dengan mengerjakan amalan-amalan wajib saja (secukup dan seadanya pula) maka apakah masih pantas menjadi ahli surganya Allah?

Penjelasan diatas rasanya sudah cukup untuk mengevaluasi (muhasabah) diri kamu apakah kamu pantas masuk surganya.

“Terus Solusinya gimana dong?”

Sebenarnya banyak solusinya, tetapi saya hanya mengetahui 2 solusinya. Solusi pertama adalah rutinkan dan membudayakan amalan-amalan sunnah. Dengan merutinkan dan membudayakan amalan-amalan sunnah maka akan menambah point kamu sehingga kamu menjadi lebih layak masuk surganya. Atau mungkin istilah dalam konsumsi, amalan-amalan wajib itu adalah makan pokok sedangkan amalan-amalan sunnah adalah suplemennya.

“Apakah amalan-amalan sunnah itu?”

Amalan-amalan sunnah sangat banyak, contohnya adalah : shalat tahajjud, shalat dhuha, puasa sunnah senin-kamis atau puasa daud, shadaqah dan masih banyak lagi amalan-amalan sunnah yang bisa kamu jadikan suplemen atau bahkan kebutuhan pokok pula disamping amalan-amalan wajib sehingga kamu menjadi layak masuk ke surga-Nya.

Solusi Kedua adalah menyebar kebaikan / dakwah (standar islam tentunya ya..)

Dengan menyebar kebaikan / dakwah ini kita akan mendapat Passive income pahala dari orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan karena dakwah kita. Bagaikan MLM (Multi Level Marketing) maka kamu menjadi puncaknya lalu orang-orang yang kamu dakwahkan adalah level dibawah kamu yang terus berbuat kebaikan, yang dengan kebaikan mereka mendapat pahala dan kamu mendapat pahala tanpa ada yang dirugikan (bahasa gaulnya : Loe untung gue juga untung).

“Tapi saya juga masih belum bener,gimana mau mendakwahi orang lain?”

Sebuah Pertanyaan Klise. Tidak harus benar/shalih dulu baru mendakwahi orang, tetapi ketika mendakwahi orang lain maka kamu pun dituntut untuk lebih baik (jauh lebih baik dari orang yang kamu dakwahi), karena akan muncul rasa malu dalam dada ketika mendakwahi orang tetapi kamu pun tidak berusaha mengamalkan apa yang kamu dakwahi kepada orang lain itu. Kalau menunggu benar dulu baru mendakwahi orang lain maka kapan akan mendakwahi orang lain biar mengerjakan kebaikan, keburu kiamat kalau pikirannya kaya gitu mah. Mulai dari sekarang, mulai untuk mendakwahi orang lain dan mulai untuk menjadi diri yang lebih baik.

“Tapi saya ga punya kemampuan/keahlian apapun untuk mendakwahi orang lain”

Lagi-lagi pertanyaan klise. Bohong ketika kamu bilang ga punya kemampuan/keahlian apapun.
kamu punya tangan, kenapa tidak menggunakan tangan itu untuk mendakwahi orang lain dengan media tulisan.

Kamu punya mulut, kenapa tidak menggunakan mulut itu untuk mendakwahi orang lain dengan ajakan, dengan nasihat, dengan orasi

Kamu punya tenaga, kenapa tidak menggunakan tenaga itu untuk mendakwahi orang lain dengan keteladanan kamu.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa digunakan untuk berdakwah, ubah mindset bahwa berdakwah itu harus dengan berceramah diatas mimbar. Itukah yang disebut dakwah?

Bukan, itu bukan dakwah. Itu hanya salah satu bentuk dalam berdakwah, karena hanya salah satu bentuk dakwah maka masih ada bentuk-bentuk lain yang sesuai dengan kemampuan kamu yang bisa digunakan mendakwahi orang lain dan kamu mendapat passive income dari orang-orang yang telah berhasil kamu dakwahi

Akan saya akhiri tulisan dengan pertanyaan

“Apakah masih yakin kamu akan masuk surga dengan amalan-amalan kamu saat ini?”

Wallahu’alam

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s